Komunikasi Kebudayaan [1]
Oleh HB. Arafat
-
Seusai Sholeh pergi entah kemana, di sebelah kiri saya terdengar suara dari seorang lelaki—yang belum laku— yang tak asing bagi saya, sedang memaparkan ketentuan dan syarat bagi calon ketua dewan kesenian daerahnya. Sementara anak kecil yang asik bermain gadjet masih nyaman duduk di dekat saya. Sekitar lima sampai sepuluh menit, lelaki itu terus ngedumel soal syarat dan ketentuan. Lelaki itu sahabat saya yang konon rumahnya di kramatwatu. Seorang sastrawan kelas Asia Tenggara, yang masih suci dari godaan virginisme. Virginisme adalah paham bahwa kemestian seorang wanita itu masih utuh perawannya untuk dihaturkan kepada Penguasa Semesta Raya.
“Pemimpin yang tidak punya harga diri ialah yang mencalonkan diri sendiri.[1]” Sergah lelaki lain yang tidak saya kenal di hadapannya, rambutnya panjang dan ikal, kulitnya kuning kecokelatan.
“Peyan iki loh.” Jawab lelaki yang mengaku sebagai sahabat saya, padahal ia sudah saya anggap saudara, sembari tertawa singkat sebelum dan sesudah berucap.
“Aku cuma membagikan pendapatnya Mbah Nun saja Gus.”
“Iyo, Aku paham. Hanya saja, setiap perkara yang berbeda keadaan, tidak dapat ditangani dengan satu cara.” Tampaknya wajah sahabat saya mulai sedikit serius. Seserius ia mengejar wanita tanpa PDKT.
“Sing tanya soal penyakit dan obat siapa Gus?”
“Bukan itu, soalnya generalisasi.”
Saya mulai dibuat bingung oleh percakapan mereka, lantaran percakapan mereka bagi saya tidak bisa utuh dan singkron satu sama lain. Meski dalam kebudayaan kita, percakapan yang tidak linier itu hal yang wajar dan yang paling penting satu sama lain paham, sudah cukup. Namun menurut saya, percakapan mereka sudah melebihi batas dinamisnya komunikasi masyarakat dan diatasnya atas linier suatu percakapan.
“Yang menggeneralisir siapa to, wong Aku bicara fakta.” Lelaki lain itu balik bertanya pada sahabat saya yang pernah menerbitkan buku “Terlepas”dan konon baru-baru ini, ia menerbitkan buku “Nada-nada Minor”.
“Yowis, yowis.” Jawab penulis “Nada-Nada Minor” sembari sedikit tertawa, meski ada guratan di wajahnya yang sedikit menyerah bercakap dengan lelaki yang barangkali sinting setengah dewa. Lalu dewa mana lagi yang akan dibuat stress oleh lelaki itu?
—
HB. Arafat, santri Kiai Syu’aib Amin, Kudus
