Kasih Sayang Takbir [2]


Oleh HB. Arafat
-

Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in”, hanya kepada Allah kita mengabdi dan hanya kepada Allah juga kita meminta pertolongan. Kepasrahan semacam ini merupakan wujud membesarkan Allah tanpa perlu memakai timbangan, ukuran-ukuran ilmiyah dan ekonomi yang biasa digunakan akademisi, ilmuwan dan ekonom bangsamu. Hanya kepada Allah kita mengabdi dan hanya kepada Allah juga kita meminta pertolongan. Kepada siapa selain Allah yang akan engkau abdi? Perusahaan, presiden, kapitalisme, iluminati, ulama’, habaib, ketua partai, artis atau kah engkau mengabdi dirimu sendiri, mengabdi pada nafsumu? Kepada siapa selain Allah yang akan engkau mintai pertolongan? Partai I, ormas N, perusahaan D, pabrik O, bos N, presiden E, habib S, kiai I, artis A atau engkau meminta tangan yang bukan milikmu, kaki yang hanya dipinjami, mata yang hanya ijin pakai saja? Kepada siapa coba engkau akan mengabdi dan meminta pertolongan?

Maka mintalah “ihdinas shirotol mustaqim”, agar hidup kita selalu berada di jalan lurus. Disisi lain, makhluk adalah jalan yang tidak lurus, sehingga tiap saat manusia harus meminta sang Maha Diabdi, Maha Dimintai, untuk membawanya ke jalan yang lurus. Jalan lurus itu bukan jalan yang tidak ada belokan, pertigaan, perempatan, simpang tiga, simpang empat, simpang lima, simpang enam, simpang tujuhnya, namun jalan yang sanggup membawa kita kepada tujuan kita, yakni Allah. Kalau ternyata dalam perjalanan menuju jalan lurus terjadi “bojo ketikung”, maka lekas-lekaslah sebut Via Vallen atau Nella Kharisma, mintalah ia menyanyi. InsyaAllah akan semakin jelas siapa yang bojo, siapa yang nikung, asalkan jangan ditikung Jorge Lorenzo di tikungan Lap terakhir sebelum finish. Pasti kepalamu akan goyang-goyang lantaran kamu gagal jadi juara pertama di lintasan mantanmu, Ya Maha Honda.

Ihdinas shirothol mustaqim” adalah kerendahan hati manusia yang mengakui bahwa dirinya masih berada di jalan yang sesat. Oleh sebabnya dalam tiap sholat, saya memohon diberikan shirothol mustaqim, lantaran saya masih tersesat di tanah air bangsamu, yang kebijakannya semakin hari, semakin sok benere dewe. Yang tidak sesuai dengan presidenmu, itu hoax, itu makar, itu membahayakan, perlu dibasmi, perlu dibubarkan, perlu dihancurkan, kalau bisa sampai akarnya. Tapi presidenmu itu tidak tahu bahwa yang ia lawan adalah rumput, semakin dicabut, semakin tumbuh berkembang banyak, apalagi ini kan musim penghujan. “Ihdinas shirothol mustaqim” adalah takbir selanjutnya dari tiap takbir yang dilakukan mushollin dan pengakuan bahwa yang bisa meluruskan jalan manusia hanya Allah. Jadi kalau engkau menemui manusia yang sukanya menyesatkan, mengkafirkan, mengharamkan, menyalahkan manusia lainnya atas tafsir dan sudut pandangnya, saya usul agar ia tidak lagi membaca “ihdinas shirothol mustaqim” tiap ia melakukan sholat.

Shirothol ladzina an’amta ‘alaihim, ghoiril maghdhubi ‘alaihim wa laa adhdhollin.” Jalan yang lurus adalah jalannya manusia-manusia yang merasa Allah berikan nikmat padanya. Manusia yang merasakan pastinya manusia yang penuh syukur dan syukur adalah takbir kasih sayang. Jalan yang lurus adalah bukan jalannya manusia yang mengatakan kebenaran itu hoax dan manusia yang tidak tahu arah jalan pulang—bukan lagunya Cakra khan. Manusia yang mengatakan kebenaran itu hoax adalah manusia yang tidak memiliki kasih sayang, juga mereka yang tak tahu arah jalan pulang, aku tanpamu, butiran debu, juga tidak memiliki kasih sayang. Lantaran kasih sayang tidak berada pada mereka yang berbohong dan enggan berjuang menempuh ketersesatannya, alias malasan.

Aamiin.” Imam menyerukannya dan jamaah mengikuti. Kami mengakui bahwa kasih sayang takbir tidak berada pada dusta, tidak berada pada kekufuran, tidak berada pada jalan protokol, tidak berada di monas, tidak juga dimiliki manusia yang malasan. Makanya seusainya engkau mengamini kasih sayang takbir, lekaslah tunang kekasihmu, agar ia tidak menunggu dalam ketidakpastian. Kasih sayang takbir adalah memberi kepastian, bahwa yang engkau kasih sayangi merasa aman dalam menapaki tiap ayat Fatihah yang sudah berupa peristiwa dan laku tiap waktu, tiap detik yang terus berputar. Fatihah adalah pintu membuka kasih sayang takbir yang perlu engkau selami, islami, silmi. Aamiin.



HB. Arafat, santri Ust. Noor Yaasin, Gebog-Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator