Ponpes Zaman Now
Oleh HB. Arafat
-
Kami melaksanakan sholat shubuh di transit dekat parkir bus, lantaran kami minim informasi mengenai masjid Tiban, Ngalam. Sementara masyarakat sekitar menuturkan bahwa masjidnya dibuka sekitar pukul 05.30 WIB. Seusainya sholat shubuh dengan paket wiridan yang tak boleh ditinggalkan, kami kemudian bergegas menuju masjid. Berjalan kaki sepanjang 300 meter, bagi kami yang orang desa, orang kampung yang ndeso, jarak tersebut teramat pendek, apalagi bagi saya yang terbiasa bonek. Bonek itu akronim dari bondo nekat, secara definisi adalah aktifitas seseorang yang menempuh jalan panjang tanpa ada bekal kecuali kenekatan itu. Meski bonek sudah menjadi ikonik masyarakat Surabaya, khususnya pendukung kesebelasan Persebaya, tak ada salahnya bagi saya Aremania memakainya kan?
Jam smartphone menunjukkan pukul 06.00, sementara jam digital di pintu masuk masjid Tiban menunjukkan 06.03 WIB. Soal perbedaan jam saya dengan jam masjid tidak perlu kita perdebatkan, lantaran jam tiap orang akan mengalami perbedaan meski di satu wilayah yang sama. Apalagi jam saya merujuk waktu Demak, sementara jam masjid ikut wilayah Malang, sehingga perdebatan tidak akan selesai meski kiamat terjadi. Hal tersebut disebabkan oleh ruang dan waktu yang memang berbeda. Belum lagi perbedaan jarak pandang, resolusi pandang, sudut pandang dan cara pandangnya. Maka janganlah kita sampai terjebak pada perbedaan yang benar dan salahnha bisa berubah saban waktu tergantung presisi yang engkau ambil. Kebenaran hari ini, bisa saja esok engkau salahkan lantaran engkau menyalahkannya secara presisi dengan empat pertimbangan pandang tadi. Begitu pun sebaliknya.
Berhubung waktunya sudah lebih dari jam 05.30, maka kami diperkenankan memasuki masjid oleh penjaga di pintu masuk. Sebelumnya penjaga mengingatkan, bahwa tempat ini bukan masjid sebagaimana informasi yang beredar di masyarakat, melainkan pondok pesantren. Namun masyarakat sudah terlanjur salah kaprah, akan susah untuk meluruskannya, kecuali harus ada simposium, seminar dan konferensi pers untuk menjelaskan ke khalayak masyarakat bahwa yang selama ini dianggap benar adalah salah. Begitulah jika sejarah tidak dirawat dengan baik antara pelaku sejarah dengan penikmat sejarah. Kok saya malah menyinggung benar-salahnya sejarah. Padahal selama hidupmu, engkau kan dengan ikhlas menerima kebohongan sejarah yang salah.
Pondok tersebut bernama pondok pesantren Salafiyah Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rohmah. Pengasuhnya bernama Romo Kyai Haji Ahmad Bahru Mafdlaluddin Shaleh Al Mahbub Rahmat Alam. Seusai memperkenalkan profil ponpes dan pengasuhnya, ia meneruskan informasi mengenai ponpes tersebut. Seusainya bertutur segala informasi, ia meminta kami untuk menziarahi Kyai Ahmad terlebih dahulu sebelum berkeliling di ponpes. Permintaan tersebut kami sambut dengan senyum, anggukan kepala dan kata “iya”, untuk mempersingkat waktu. Sebab nanti seusai dari sini harus kembali ke barat, ke Kabupaten Jombang, tempat persemayaman Gus Dur.
Kami memasuki lorong bawah tanah dengan interior yang “subhanaAllah” indah sekali. Serupa keramik tapi bukan keramik yang menghiasi dinding. Warna birunya menyala. Di dinding pula tergantung serupa fosil tapi bukan fosil. Reranting pohon warnanya kecoklatan dari zaman old yang masih terawat di zaman now menghiasi pinggiran dinding. Ada juga lampion yang tergantung dan lampu di atap yang memancarkan cahaya warna kuning keemasan. SubhanaAllah syahdu sekali, apalagi kalau engkau—yang aku lain— berada di samping saya dan menggenggam tangan saya. Berhubung engkau tak ada, saya hanya menggandeng sepasang sandal, alias memegang sandal lantaran sandal harus dilepas, ada tulisan batas suci.
Kami sudah sampai di ujung lorong ponpes Tiban, lantaran nama ponpesnya teramat panjang, kurang umum dan kurang indah pemilihan katanya, maka saya sebut ponpes Tiban saja. Agar tampak indah sebagaimana interior bangunannya dan agar khazanah lokal yakni kata “tiban” tetap dipakai. Di ujung lorong ponpes, waktunya sepasang sandal turun dari genggaman tangan untuk memuliakan makhluk yang bernama kaki. Cahaya mentari pagi tampak kembali dan kami berjalan kembali di outdoor, halaman yang dihiasi beberapa pohon palm yang menjulang tinggi dan dinding yang tetap “subhanaAllah” indahnya. Dengan cahaya mentari pagi, selfie merupakan momentum yang tepat untuk dilaksanakan oleh pemuda zaman now.
—
HB. Arafat, santri Kiai Nashihin, Kudus
