Untung Tidak ke Istri Kedua


Oleh HB. Arafat
-

Sami’a Allahu liman hamidah” Allah telah mendengar pujian dari para pemujiNya. Maka ketika tubuh sudah tegak, seraya kita berucap “Rabbana lakal hamdu mil ‘us samaawaati wa mil ul ardhi wa mil ‘u maa syi’ta min syai’in ba’du”. Barangkali sebagian ada yang sekadar “Rabbana lakal hamd”. Perbedaan itu tidak lantas menjadikan kita bersitegang, adu kebenaran. Kalau dalam memuji saja masih berurusan dengan benar dan salah, kita tidak akan sampai pada subtansi pujian itu. Sebagaimana ketika engkau bertemu kekasihmu, benar-salah adalah hal yang akan terabai dalam pujian yang engkau berikan pada kekasihmu. Allah Tuhan kami, bagi dan kepadamu segala puji, seluruh langit dan bumi dan segala sesuatu yang tidak sanggup kami jangkau, yang telah kau kehendaki setelahnya. “Allahu Akbar”.

Lalu sujud, menyatukan pikiran dengan bumi yang dipijak sembari mengucap “Subhana Rabbiyal a’la wa bihamdih”. Maha suci Tuhan yang begitu luhur dan bersama pujiNya. Keluhuran adalah kerendahan yang mampu meninggikan drajat seseorang. Ketika engkau mengharapkan tingginya drajat, engkau mesti berlaku luhur. Sebab dari keluhuran, makhluk-makhluk dalam lingkaranmu akan mengangkat drajatmu perlahan. Sujud sendiri adalah metafora dari semakin tua semakin merunduknya padi. Sehingga semakin engkau tua atau dewasa dalam pemikiran, selekasnyalah rendahkanlah pikiranmu dari hati dan pantatmu. Agar engkau tidak terjebak pada kesombongan yang lebih dekat pada akal pikiran.

Sujud adalah kerendahan pada Pencipta, bahwa isi kepala dan dada tidak akan sanggup menemui ridlaNya. Kalau engkau masih mengedepankan kalkulasi pahala dan imajinasi surga, bisa-bisa engkau dijebak olehNya. Dia akan menanyakan “Sesungguhnya engkau ingin menjumpaiku atau ingin mendapatkan surgaku?” Lalu engkau bingung menjawabnya lantaran yang bertanya itu Dia. Lalu engkau akan ditanya kembali “Mengapa pantatmu lebih tinggi letaknya daripada dada dan kepalamu?” Engkau pun semakin bingung. Tapi semakin engkau bingung, semakin akan terang dan jelas bahwa manusia mestinya tidak lagi memandang materi yang berupa bentuk kepala, dada dan pantat. Engkau pun mesti ikhlas melakukan sujud itu jika engkau begitu luhur, begitu ‘ala, “Allahu Akbar”.

Seusainya menemukan kesadaran bahwa manusia mesti menuju pada pemuji yang baik, disusul kesadaran merendah serendah tanah. Maka ketika bangkit dari sujud, manusia diberikan peluang untuk “Rabbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzuqni wahdini wa’afini wa’fu ‘anni”. Mengakui kesalahan dan dosanya pada Allah, kasih sayangNya beserta kecukupanNya untuk kemudian diangkatlah derajatnya sebagai khalifatullah fil ‘ardhi oleh Allah. Seusai menjadi pemimpin, maka yang dipanjatkan adalah meminta keluasan dan kelancaran rejeki, untuk menafkahi rakyatnya.

Selanjutnya, pemimpin memohon agar diberikan petunjuk. Petunjuk itu gunanya agar setiap langkah yang dibuatnya sebagai pemimpin tidak melepaskan peran utama Allah. Agar terwujud adil, makmur, sejahtera dan religius. Maka kalau ada pemimpin yang sampai tidak melibatkan Allah dalam kebijakannya untuk rakyat dan setiap dalam sembahyangnya tidak membawa rakyatnya, lebih baik laporkan pada yang bertanggung jawab padanya. Oleh sebabNya, pemimpin juga dituntun untuk mendoakan kesehatan semuanya, lantaran tanpa sehat, seseorang tidak akan sanggup menjalankan program-program kerjanya. Baik DP 0 rupiah, plusplus, dan program-program lainnya asalkan atas asas masyarakat yang adil dan beradab. Pada puncaknya, ia akan kembali memohon maaf. Kalau-kalau nanti dipermasalahkan oleh Allah, slilit dosa makan uangnya rakyat yang masih mengganjal di gigi, mulut fakta pengadilanNya.

Allahu Akbar” Mbah Taib dengan tegas membacanya sembari sujud kembali, diikuti oleh saya dan jamaah lainnya.

Allahu Akbar” Mbah Taib berdiri dari sujudnya melanjutkan rekaat kedua sholat shubuh. Diikuti oleh saya dan makmum lainnya. Untungnya beliau tidak melanjutkan ke istri kedua. Al Fatihah.



HB. Arafat, santri Ust. Su’udi Hasyim, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator