Komunikasi Kebudayaan [2]
Oleh HB. Arafat
-
“Kok yowis? Emangnya ada yang memulai?” Lelaki lain itu agaknya mulai naik pitam, meski pitam sendiri tidak bisa dinaikin, lantaran pitam sudah naik belalang tempur, itu mah baja hitam.
“Pikirmu, piye, jal?” Sahabat saya mulai agak jengkel di level garis tengah. Meski tetap ia menyisipkan sedikit tawa. Tertawa kok sedikit, pelit amat ya.
“Aku cuma berpikir tentang mengomentarimu. Dalam komentar itu berpikir soal pendapat Mbah Nun. Itu saja. Kok tiba-tiba panjenengan ngidul, sementara aku ngalor.” Lelaki itu mulai menyadari bahwa percakapannya dengan sahabat saya tidak nyambung. Ia pun sedikit tertawa mengikuti sedikit tertawanya sahabat saya. Sahabat saya pun tertawa juga, melihat lelaki di hadapannya itu tampak tertawa. “Ketua tim seleksi apa layak tertawa disaat menjaring calon pemimpin?” Lanjut lelaki itu sembari raut mukanya berubah sedikit serius. Sahabat saya hanya tertawa, dan kali ini tidak sedikit tertawa, namun tertawa banyak atau terbahak.
“Asu
Usa
Sau
Aus
Uas
Ois”
Sahabat saya hanya tertawa saja, mendengar semacam puisi dari lelaki itu.
“ Ah, ah.” Lelaki bersuara lagi laiknya mengejek orang, meski sahabat saya tidak menanggapi. “Aku serius soal khilafah ini.” Lanjutnya. Mereka berdua berdiam panjang. “Kamu mau aku kayak ustadz?” Celetuknya lagi.
Sementara, dari memori kepala menangkap ada desis “al Fatihah” yang berasal dari pita suara mbah Ta’ib. Ternyata selama saya menziarahi kenangan, masa lalu dan memoar, jasad saya sedang berziarah di hadapan Kyai Ahmad. Tahlil dan do’a sudah purna dan khatam. Al Fatihah sebagai penutup doa bukan desisan, melainkan kenyataan yang mesti diterima telinga saya. Kenangan adalah do’a yang membuah pada langkah saat ini. Masa lalu adalah kenangan yang telah menikah dengan do’a. Dan memoar adalah masa lalu yang terlahir sebagai memoar berupa catatan di dalam dada Al Fatihah.
—
HB. Arafat, santri Kiai Nasuha Abadi, Kudus
