Ziarah: Politik dan Sejarah
Oleh HB. Arafat
-
Destinasi pertama kami yakni Makam leluhur desa kami, Kiai Choliel Idries. Akan lucu, kalau tidak lucu jangan tertawa, sebab itu akan membuat dokter jiwa dan psikolog bertambah pekerjaannya, sementara gajinya sama. Akan lucu, kalau sampai kami bersilaturrahim ke rumah saudara-saudara, teman-teman, kiai-kiai dan guru-guru, namun tidak bersilaturrahim ke orang tua sendiri. Kalau ini jangan tertawa, sebab sudah memasuki paraghraf serius, meski baru paraghraf pertama. Jangan sampai kami seperti bangsa Inidinesia, yang senang mengadopsi produk-produk Ameriki, Is-real, Chin(t)a, Balonku, Ingglis, namun tidak mengadopsi produk bapak-ibunya Nusantara, Atlantis, Kaum Nuh, Sundaland, Mataram, Majapahit, Kalingga, Sriwijaya, dan bapak-bapak ibu-ibu yang lainnya. Maka ziarah pertama kali kami, ke orang tua sendiri, baru ke orang tua lainnya dan seterusnya, sesuai posision nasabnya masing-masing.
Kemudian, kami melanjutkan perjalanan menuju Demak, tepatnya ke Makam Kadilangu. Tempat persemayaman yang nyaman bagi Sunan Kalijaga. Kau tahu sisi lain dari beliau kanjeng Sunan Kalijaga? Menurut Mbah Nun, Sunan Kalijaga sebenarnya merupakan tokoh politik. Peran Sunan Kalijaga sebagai tokoh politik yakni mengemban transisi perpindahan kekuasaan dari kerajaan Majapahit ke kerajaan Demak. Menurut Mbah Nun, Sunan Kalijaga lebih berperan dalam bidang politik daripada bidang seni dan budaya. Menurut saya, dalam karir politiknya Sunan Kalijaga tidak melepaskan ilmu seni dan budaya di setiap langkahnya. Maka selain disebut Mbah Nun, peran beliau sebagai tokoh politik yang berhasil mengantarkan transisi tanpa pertumpahan darah, kedekatan beliau dengan masyarakat tanpa ada suatu kepentingan pribadinya, melainkan kepentingan atas ijin Allah, beliau dikenal sebagai budayawan.
Sebagaimana Mbah Nun, Sunan Kalijaga dulu juga menolak kursi pemerintahan meski memiliki kapasitas untuk mengatur dan menciptakan regulasi yang adil secara sosial bagi seluruh rakyat. Namun kedua tokoh tersebut lebih memilih kursi ghaib demi menjaga nilai budaya atau jangan-jangan kursinya adalah “wasi’a kursiyyuhus samawaati wal ardla wa laa yauduhu hifdluhuma wa huwa al’aliyul adhim”. Atau bisa jadi beliau berdua tidak diutus untuk di wilayah ramai, namun sekadar di wilayah sunyi saja. Engkau tahu mengapa begitu? Mungkin saja Allah ingin menjaga beliau berdua dari jahatnya pelaku politik. Kalau kata orang-orang, tidak ada kawan dalam dunia politik. Maka mungkin begitulah cara Allah untuk tetap menjaga beliau berdua agar tidak memiliki musuh.
Kembali ke Kadilangu. Disana, selain keberadaan makam Sunan Kalijaga ada dua makam tokoh penting dalam sejarah nenek moyang kita, yakni Empu Supo dan Arya Penangsang. Saya kok malah jadi terheran, sebab saya pernah menemui makam Arya Penangsang di beberapa tempat selain di Kadilangu. Silahkan engkau-engkau googling sendiri. Tapi kok bisa ya? Apa yang tidak bisa bagi Allah? Sesekali engkau-engkau pergi ke Surabaya, engkau akan menemukan satu orang dengan sembilan makam, beliau bernama Mbah Sholeh. Demikian laporan saya dari Kadilangu kepada engkau-engkau semua yang hilang arah dan tujuan namun masih tetap mengingat kenangan meski sekecil dzarrah. Allah Maha Politik dan Sejarah.
—
HB. Arafat, Santri Kiai Muhammad Ma’ruf Irsyad Kudus
