Tugu Perbatasan: Dangdut Koplo dan Dunia Sastro
Oleh HB. Arafat
-
Saya manggut-manggut mendengarkan informasi-informasi yang mbah Taib tuturkan. Selain itu lagu dangdut koplo yang kece tapi tidak memble yang juga tidak anti in-telek-tu-al—artinya dalam telek untuk al— yang membuat saya sekalian manggut-manggut. Sambil menyelam minum air itu lebih mengeyangkan daripada sambil nulis esai terima segepok uang itu tidak mengenyangkan sama sekali. Sebab kenyang itu letaknya di maknyus-nya makanan, bukan di ramainya warung. Lo lah saya kok malah tergiur dengan makanan yang belum ada label halalnya dari lembaga survey inidinesia, duh, duh. Ngelantur saya kambuh lagi, lagi-lagi kambuh beneran tidak fokusan saya dalam manggut-manggut. Tak terasa busnya sudah sampai perbatasan jateng dan jatim.
Tiap kali saya menyinggahi suatu tugu perbatasan kota, perbatasan provinsi, selalu mengingatkan kisah kita yang belum lekas dileburkan oleh pak naib. Tapi itu kesalahan saya yang terlalu menjaga diri dari iming-iming uang bergepok-gepok dengan cara ikutan lomba puisi esai, menulis esai tentang Denny Cagur agar tampak lucu. Sungguh maafkanlah saya cahayu, yang belum selekas-lekasnya mempersuntingmu. Sungguh maafkanlah masmu cahayu, yang tidak melamarmu dalam tempo sesingkat-singkatnya sebagaimana puisi yang begitu singkat namun syarat makna. Barangkali masmu ini tergoda dengan panjangnya puisi esai sehingga pelaminan kita amatlah panjang waktunya untuk diwujudkan. Namun saya akan selalu berusaha melekaskan pernikahan kita karena masmu ini sebagaimana lagu dangdut yang dinyanyikan Via Vallen “Aku Cah Kerjo”.
Mbah Taib sudah selesai memberikan informasi mengenai Sarang yang begitu terngiang dalam ingatan saya. Meski sudah selesai beliau bertutur, lagu dangdut koplonya tetap menggema seluruh sudut bus. Saya lihat ke belakang, sebagian ibu-ibu sudah tertidur, sebagian lain melongo melihat Via Vallen bergoyang. Oh ya, selain teman saya Raedu Basha yang kece tapi tidak memble—lantaran tidak dapat buku cinta dari nabi anyar itu— ada teman dan saudara saya lainnya yakni Muid. Ia adalah mantan presiden universitas bapaknya Gus Dur di Semarang. Selain itu ada Irwan, Nurudin, Uyung, Sholichuddin Telo, Encis, dan masih banyak lainnya—kalau saya teruskan menyebut nama-nama bisa-bisa akan terkumpul 33 santri Sarang paling kece tidak memble— yang menjadi alumni Sarang, bukan bagian dari alumni 212 wira sableng.
Semakin lama bus melaju dengan sendirinya lantaran saya tidak mengemudikannya, yang mengemudikan pak supir. Lama-lama saya semakin lunglai tak berdaya kalau mengamati dan merenungi perjalanan, ditambah hati yang bergoyang dengan lagu dangdut koplo serta ramainya medsos yang pernah panas dengan hadirnya nabi anyar dan kitab suci—esainya yang terlanjur dikirim-kirim ke umat yang dipaksa mengakui kenabiannya—, apalagi saya tadi hanya berbuka dengan rokok yang beraroma mantan, kopi yang dicampuri komunisme. Saya pindah ke tempat duduk awal yakni jok belakang, sebelahnya kang Toha. Saya ingin istirahat karena belum makan, mau makan di bus itu enggak enak—enggak enaknya serupa engkau menerima kiriman buku yang tak jelas pengirimnya ditambah buku itu tidak enak katanya. Saya ingin istirah sejenak siapa tahu bangun-bangun sudah sampai makamnya Maulana Ibrahim AsSamarkhand, Tuban.
—
HB. Arafat, santri Kiai Munir Hisyam Hayat, Janggalan Kudus
