Tuan Rumah


Oleh HB. Arafat
-

Kemudian bagian 5 Al Barjanzy diserahkan mas Arinal kepada saya. Saya baca hingga selesai, para jamaah bersama-sama mengucapkan Aththirillahumma raudlahus syarifi bi’arfin syadzi min sholatin wa taslim. Allahumma sholli wasalim ‘alaih. Mas Arinal memberikan kode agar personil Narju Syafaah bersiap-siap untuk memulai melantunkan lagu-lagu cinta, syair-syair cinta, puisi-puisi cinta. Lampu dimatikan Mas Aris, masjid menjadi gelap. Shohibul baiti, lantunan itu mulai terdengar dari soundsystem masjid. Shohibul baiti, itu suara mas Arinal. Shohibul baiti, bergetar badan saya, mulai merasakan lemas tanpa daya—seperti baterai yang lowbat. Ya Shohibul baiti, tiba-tiba ngantuk menyerang mata dan pikiran semakin kosong—sekosong hatimu wahai para jomblo.

Imamu hayati, mulai hening tanpa rasa menghinggapi diri. Imamu hayati, tiba-tiba saya merasakan berdiri di suatu rumah. Imamu hayati, saya ketuk rumah itu. Rumah kayu jati yang atapnya sebagaimana atap rumah adat Betawi, namun di belakangnya beratap rumah adat Jawa. Ya Imamu hayati, saya terkejut bahwa yang memiliki rumah itu adalah diri Saya. Mursyidu imani, Dia mempersilakan saya masuk ke dalam rumahnya. Anta syamsu qolbi, saya termangu melihat isi rumahnya sebab dunia seisinya berada di dalamnya. Qomaru fuadi, Saya melihat jupiter, venus,, saturnus, iblis, dajjal, malaikat, para nabi, wali, presiden-presiden, bahkan facebook, twitter, path, instagram berada di dalam rumahnya. Lengkap seisi dunia ada di dalamnya. Ya Qurrotu ‘aini, anehnya Dia bukan memperlakukanku sebagai tamunya, malah menyuruh saya membuatkan teh, kopi, menyiapkan rokok, menanak nasi, memasak sayur, lauk dan mengupas buah-buahan.

Shohibul baiti, saya tidak membantah, tidak melawan. Shohibul baiti, seperti dihipnotis, saya melakukan perintah-perintahnya tanpa satupun bantahan dan perlawanan, namun saya sadar. Shohibul baiti, setelah semuanya tersaji, Dia tidak menikmatinya melainkan saya yang disuruh menikmati apa yang telah saya kerjakan. Ya Shohibul baiti, Dia menatap saya tanpa suatu bentuk yang saya temui di Dunia ini. Syafi’u nashibi, tiba-tiba Dia menghentikan makan dan minum saya, padahal belum kenyang. Ya maula jihadi, lalu Dia suruh saya melaksanakan segala kehendaknya, dari nyuci piring, ngepel lantai, ngucek baju, menjemur pakaian bahkan Dia menyuruh saya mencintaimu nduk. Ufuqu syauqi, saya diperkenalkan dengan para kekasih-kekasihNya, memberikan ilmu yang belum pernah saya temui di dunia ini. Ya Babu akhiroti, kemudian Dia mempersilahkan saya keluar dari rumahnya, tapi saya tidak bisa keluar.

Shohibul baiti, Shohibul baiti, Shohibul baiti, Ya Shohibul baiti. Saya sadar bahwa saya hanya seorang budak, seorang hamba yang mesti manut sama tuanNya. Dialah tuan rumah hidup saya, yang harus saya ta’ati sampai saya lebur bersamaNya dan cintaNya. Imamu hayati, Imamu hayati, Imamu hayati, Ya Imamu hayati. Tiba-tiba lampu terang dan mata saya terbuka. Saya masih di masjid, di sampingnya mas Arinal.



*Shohibul Baiti adalah lagu karya Emha Ainun Nadjib dan KiaiKanjeng. Lagu ini menjadi lagu kebangsaan Jannatul Maiyah.


HB. Arafat, murid Kiai Ali Masyhudi

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator