Tua Sebelum Waktunya
Oleh HB. Arafat
-
“Tua sebelum waktunya iki aku mas.” Tuturmu membalas pernyataan sikap bahwa doa yang selalu saya haturkan padaNya hanya untuk emak. Engkau kembali menekuri kenelangsaan yang saat ini sedang saya alihkan pada perjuangan yang mesti kita jalani masing-masing.
“Enggak tua kok nduk. Cah ayu tetep muda bagi saya. Ada hal lain yang ingin Allah beritakan kepadamu sebenarnya. InsyaAllah berkah nduk. Diniatkan lillahi ta’ala mawon nduk.” Sembari membalas kesahmu, saya ulurkan tangan menggapai kepalamu, menyandarkannya pada bidang dadaku.
“Tapi sampai kapan ya kayak gini?” Engkau sedikit manja namun tetap dalam sedikit duka yang menyelimuti wajah ayumu. Barangkali dada adalah solusi tangis wanita untuk meresapkan segala air matanya. Begitu juga engkau cah ayu.
“Mungkin sampai cah ayu benar-benar tidak lagi merasa lelah dan nyerah.” Sembari saya sentuh hidung manismu.
“Sampai mati berarti ya. Doakan aku cepat mati jiwa dan raga mas.”
“Cah ayu kok ngomongnya ngawur terus sih.” Sebenarnya saya agak geram ketika sedikit kengawuran yang engkau rasakan terucap oleh mulutmu. Namun bagaimana pun, meski saya geram, saya tidak punya hak dan tanggung jawab memarahimu. Tanggung jawab saya hanyalah memberi rasa aman dan kenyamanan agar engkau merasa amin dalam setiap detik-detik bersamaku, sebab saya harus lah menjadi seorang mu’min.
“Nang, tangi nang, wes tekan makom Syech Asmaraqondi.” Suara lek Ngatminah membuyarkan kehadiranmu. Menghilangkan kehadiran kita yang sedang menciptakan romantisme di kursi sofa samping mesin jahit bapak. Duh, lek Ngatminah ini tidak memiliki rasa sedikit pun. Mbok biarkan saya tidur menikmati romantisme dengan kekasih. Namun di sisi lain, lek Ngatminah mengambil sikap yang patut ia lakukan. Jauh-jauh dengan niatan ingin sowan ke makam wali, agar semakin dekat dengan kekasihnya yakni Allah, kok malah tidur. Sebagaimana siang tadi saya yang absen menziarahi makam Ki Ageng Selo.
Terkadang hidup memang tampak kejam namun sejatinya itulah nilai dari puasa. Kalau saya terus menerus menikmati kenikmatan, menikmati romantisme dengan sesuatu yang saya cintai tanpa menempuh riyadhah dan tirakat sebagaimana para wali yang rela berhijrah dari tanah airnya demi perjuangan. Sebagaimana nabi yang rela anak yang sangat dicintainya disembelih demi pengorbanan cinta padaNya, maka lebaran, berbuka tak akan didapatkan beliau-beliau dan turunannya.
Saya harus bangun dan turun dari bus untuk bersama-sama sowan Maulana Ibrahim AsSamarkhad, sebab dari awal niatan saya yakni sowan kepada para kekasih Allah. Meski terkadang hadir mimpi yang membuat saya teramat nyaman dan senang, namun itu hanya berbuka saja sesaat. Puasa, riyadhoh, tirakat dan mendekat padaNya tetaplah harus berjalan, agar lamat-lamat nafsu yang hadir dalam diri saya hilang dan lenyap. Kemudian, setiap yang saya laksanakan adalah segala kehendakNya, meski manusia-manusia lainnya menganggap saya tua sebelum waktunya.
—
HB. Arafat, santri kiai Mudlofar Hisyam, Janggalan Kudus
