Tidur Saja Kok Repot
Oleh HB. Arafat
-
Sekitar pukul 10.30 kami meninggalkan area makam Sunan Kalijaga, meski dalam tulisan di depan parkiran tertulis kawasan ziarah dan wisata makam Sunan Kalijaga. Lalu mestinya muncul pertanyaan ma adraka wisata? Menurut undang-undang RI no. 10 th 2009—meski sebenarnya tidak shahih banget— ialah kegiatan perjalanan yang dilakukan manusia baik perorangan maupun kelompok untuk mengunjungi destinasi tertentu dengan tujuan rekreasi, mempelajari keunikan daerah wisata, pengembangan diri dsb., dalam kurun waktu yang singkat atau sementara. Berarti kami ke Kadilangu akan disebut wisata jika memenuhi syarat tujuan diantaranya, (1) rekreasi, (2) mempelajari keunikan daerah wisata, (3) pengembangan diri, (4) dsb. Kalau tidak memiliki tujuan diantara keempat tujuan itu secara undang-undang, maka tidak bisa dikatakan wisata.
Kalau engkau menyebutnya sebagai wisata sementara tujuanmu tahlilan, yasiinan, washilah, tirakat, riyadhah apalagi curhat engkau akan dikenakan sangsi oleh undang-undang karena tidak sesuai dengannya, bisa jadi engkau dipenjarakan, bisa dianggap makar, bisa pula dianggap penistaan undang-undang lo. Hati-hati ya, jangan sampai engkau salah tulis. Makanya sejak awal saya menyebutnya hanya area makam Sunan Kalijaga, tidak ikut madzhab UU, sebab saya belum menikah mblo. Saya tidak mau anak cucu saya dikenal sebagai anak turunan penjahat. Saya pun tidak menyebutnya sebagai tempat ziarah, sebab takutnya kalau saya tidak sesuai definisi ziarah, mereka yang di garis lurus bisa memaki-maki saya lo. Bahkan sebelum mereka yang berada di barisan garis lurus, sudah ada akhi-akhi kita—akhimu saja ya, saya kan enggak— yang bersiap-siap dengan dalilnya untuk meng-ANU-kan kita. Waspadalah, waspadalah, meski acara sudah tidak tayang di televisi siang hari.
Maka daripada kita sibuk dengan keriuhan perbedaan itu, lebih baik kita ikuti jejak the real president kita Kiai Abdurrahman Wahid, ditinggal tidur saja. Sebab secantik apapun orangnya, sepandai apapun manusianya, sealim apapun kiainya, tidurnya tetap sama—paling-paling ngorok—. Dalam tidur, seseorang tidak akan riuh, meributkan perbedaan satu sama lain. Dalam tidur, manusia membangunkan mimpinya masing-masing. Mestinya, ketika ia terbangun dari tidur, ia harus bisa membangun mimpi itu sebagai realitas sosial yang padu antara satu mimpi dengan mimpi lainnya. Dalam realitas, mimpi pribadi tidak akan menyadarkan tidurnya orang lain yang bermimpi, kecuali orang itu arogan dan egois demi memenangkan mimpi pribadinya dan mengalahkan mimpi orang lain. Itulah sebabnya Presiden Kita yang Wahid selalu tidur disaat riuh sidang-sidang yang tak jelas kebermanfaatannya.
Jika hal itu benar adanya, maka tidur saya sepanjang perjalanan Kadilangu Demak-Mrapen Purwodadi adalah hal yang paling baik yang saya lakukan. Daripada saya menggunjing pak Abas Taslim, pak lek Jokosusanto Nashir, pak dhe Ganjarpradibyo—yang bukan penyair—, mbah Jokowinurbo—bukan penyair juga—, Mbah Alizabeth, Mbah Donal Trompet, alangkah baiknya saya tidur kan. Apalagi saya hari ini sedang berpuasa, konon tidurnya orang berpuasa itu ibadah. Maka mari kita rapatkan barisan, galakkan bersama gerakan tidur berjamaah—eh salah, adanya gerakan shubuh berjamaah, padahal tanpa adanya gerakan itu Kiai-kiai desa dan pesantren sudah melakukannya tanpa baliho, twit dan status lo.
Maka tidurlah, sebelum shubuh datang, sebelum saya sampai tujuan di Mrapen. Tidurlah, tidur. Tidur saja kok repot, seperti saya segampang meludah, tidur pun juga. Biarkan yang tak tidur adalah Api Abadi Mrapen serta api cinta yang selalu nyala pada dadaku wujud namamu. Tidurlah, tidur. Sebelum saya sampai di kebadian api yang kubakar dengan dada. Sebelum sampai di hangat cinta yang terasa di kulit rasamu. Tidurlah.
—
HB. Arafat, santri Kiai Em. Masyfuie, Dawe-Kudus
