Tafakur dalam Tidur
Oleh HB. Arafat
-
“Pengen nyerah.” Suaramu menyadarkan istirah sejenak saya, namun itu tidak membuat saya mengeluh, patah semangat dan menyerah dari keadaan yang memang mesti dijalani oleh musafir di bumi sebagaimana kita. Sebenarnya saya lelah juga cah ayu, dengan perjalanan yang tak saya sendiri yang mengemudikannya. Namun bagaimanapun penumpang mestilah patuh pada pengemudi agar selamat sampai tujuan yang hendak kita tuju. Selain itu, saya juga tidak tega melihat air matamu yang jatuh lagi dari langit permasalahan yang engkau tampung bersama gumpalan mendung derita.
“Kok sukanya gitu sih nduk.” Jawab saya sekenanya agar sedikit kikis derita yang engkau alami, sementara saya jarang membersamai dalam keadaan-keadaan getir semacam itu. Dalam hati merasa bersalah sebab ketiadaan saya pada saat-saat yang genting di kehidupan keluarga kita. Namun bagaimanapun saya mesti berjuang dahulu, berpuasa sejenak, bertirakat sebentar menaklukkan nafsu-nafsu yang tak henti-henti menguji setiap langkah yang saya perjuangkan atas nama cinta, atas namamu. Setelah itu, barulah saya bisa merdeka untuk menemanimu tanpa sedikitpun kepentingan saya hidup pada langkah-langkah kita.
“Lelah mas.” Engkau menjawab dengan kebiasaan lamamu, bahwa engkau tak pernah lega dengan jawaban-jawaban saya haturkan padamu. Bukan sebab engkau yang ngeyelan, melainkan begitu sesak yang ingin engkau tumpahkan seketika padaku. Sementara tidak ada yang engkau percayai mendengar segala gelisah dan sesak dalam dada serta matamu kecuali Dia dan saya. Apalagi engkau selalu berusaha untuk tegar dan kuat, meski katamu tubuhmu teramat ringkih untuk menanggungnya sendiri.
"Kalau lelah istirahat ya sayangku. Mau dicariin pembantu?"
"Enggak mas."
"Pijit mau nduk?"
"Asah-asah iku lho mas, nekh gak aku gak ada yang ngemek. Sampai enggak ada piring, gak ada sendok blas. Gek nemeni po jagain Emak we do gak tanggap, gak peka. Aku tuh sampe gak bisa berhenti mikir. Habis ini ngapain, habis ini apa, setelah ini harus apa, apa yang harus dilakukan blablabla, kesana kemari. Lah lainnya kok tenang, santai, nonton TV, gitaran, tulung-tulung. Kayak bergantung sama aku. Maem sing mikir aku, nggodog banyu we aku, apapun lah."
Saya hanya diam menahan jeda agar engkau semakin lega, sebagaimana langitmu yang sejatinya luas namun jarang sekali engkau menampakkannya pada mereka, kecuali pada saya dan Dia. "Emak perkembangannya bagaimana cah ayu?" Saya berusaha mengalihkan nestapa yang sejatinya tiada itu agar engkau pun fokus kembali berjuang untuk kesembuhan Emak. Sebab sementara ini hidupmu, hidupku sedang memperjuangkan selain diri kita sendiri.
"Alon-alon lah mas."
"Syukurlah kalau ada perkembangan."
"Doanya ya"
"Iya cah ayu, doaku selalu untuk emak."
—
HB. Arafat, santri Kiai Abdul Hafidz Hisyam, Sunggingan Kudus
