Sujud di Atas Syukur


Oleh HB. Arafat
-

Sehabis membasuh kedua telinga dan kedua kaki, saya langsung masuk ke dalam masjid, melaksanakan prosesi sujud syukur. Bersyukur engkau hadir memberi warna dalam hidupku. Jangan baper, ya, para jomblower yang dirahmati oleh Allah, bahwa jomblo sesungguhnya adalah pernikahan yang belum mendapatkan pasangan, bukan kesendirian sebab tidak laku-laku. Saya bersyukur telah dihadirkan pria yang begitu membuat titik sadar saya bergetar dan mengalir. Meski ditengah-tengah kesadaran saya ada bayang-bayang menginjak pikiran.

Wanita tua yang perutnya agak buncit sebagaimana orang hamil dibopong bapak tua dan diikuti dua anaknya. Tergesa-gesa masuk ruangan UGD suatu intansi rumah sakit yang samar tempatnya. Beliau tampak kesakitan menahan sakit, meski sakitnya kalah kuat dibanding keluasan hatinya menerima sakit itu. Kemudian beliau ditempatkan di tempat tidur pasien yang samping kanan, kiri dan depannya sudah terbaring pasien yang dirawat sejak kapannya saya tidak mengerti betul. Yang jelas tim dokter dan suster sesegera menemui wanita tua dan memeriksanya dengan alat-alat yang saya sendiri tidak paham betul alat apa dan apa yang sedang dilakukan mereka terhadap beliau.

Kali ini sujud saya begitu panjang dan lama, bukan sebab saya ingin kapalen melekat di kepala saya. Bukan pula ingin dianggap religius dan mengikuti sunnahnya Rasul Muhammad. Hanya saja banyang-bayang wanita tua yang belum saya ketahui namanya itu hinggap dalam ruang syukur saya. Tidak seperti biasanya yang hanya membutuhkan beberapa menit saja cukup bukan satu jam saja, satu jam saja.

Adzan dhuhur berkumandang, menyadarkan pikiran saya dari alam bawah syukur. Saya terhenyak dan teringat tentangmu yang sempat chat whats'app tiga huruf, "M-a-s" tadi. Lalu saya rogoh kantong celana, mencoba menghubungimu. Saya menepi menjauh dari masjid, agar suaramu terdengar jelas. Sebab adzannya masjid menggunakan speaker yang akan mengganggu suaramu masuk di telinga. Namun bukannya engkau mengangkatnya, melainkan tilulit tilulit dan terdengar suara wanita lain mengucapkan "Maaf nomer yang anda tuju sedang sibuk". Mendengarnya, betapa remuk redap tiada badai menghinggapi rasaku, apa engkau baik-baik saja, nduk.

Lantas saya menghubungi mamak yang masih berbelanja, sudah selesaikah proses belanjanya atau belum. Beliau mengatakan tinggal sebentar lagi, paling-paling lima belas menit. Saya pun meninggalkan masjid, meski adzan dhuhur baru menginjak lafadz "Hayya 'ala Falah", bergegas menuju parkir selatan pasar. Ditengah perjalanan kesana saya teringat kang Dul. Jangan-jangan yang menghinggap sebagai bayang-bayang itu emaknya, mertuanya. Kalau memang betul, mestinya tadi saya melakukan sujud di atas syukur. Bahwasanya syukur seseorang mesti diletakkan dibawah kepasrahan yang sangat santun dan tawadlu', meski dalam keadaan apapun. Jika ibumu nduk, jangan menyuruh ajudanmu untuk mengatakan "Maaf nomer yang anda tuju sedang sibuk".

-

HB. Arafat, murid Ibu Mufidah Wahid

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia

Perubahan Budaya adalah Koentji