Seminggu Kemudian


Oleh HB. Arafat
-

Seminggu kemudian. Biar tidak kalah saing dengan film-film produksi lokal atau sinema, serial kartun yang sukanya motong alur cerita. Seminggu kemudian, tepatnya kamis seminggu kemudian. Ingat lo, seminggu kemudian skip sine-nya ketika sehabis mahalul qiyam di masjid, lalu hilang semua alurnya dilanjutkan dengan dua kata “seminggu kemudian”. Seminggu kemudian setelah malam senin maulidan disudahi, kehidupan saya yang biasa-biasa perlu dirasakan dengan biasa saja. Kunci untuk menjadi biasa saja hanya satu yakni membiasakan yang belum terbiasa menjadi suatu kebiasaan yang biasa-biasa saja.

Seminggu kemudian, selain menjalani kehidupan yang biasa-biasa saja, ada yang hampir luar biasa. Yakni saya berhasil melaksanakan proses amplopisasi secara continue—bukan to be continues milik beberapa acara televisi— kepada teman, saudara, tetangga (dan mantan)—secara kaidah bahasa yang baik, sesuatu teks yang berada dalam kurungan itu tidak penting dibaca sebagai kesatuan suatu kalimat dan paraghrafnya. Oleh sebabnya lupakanlah yang berada dalam kurungan. Toh nyatanya yang yang di dalam kurungan bukan kekasihmu lagi Mblo. Mending engkau ke pasar burung, kemudian beli burung untuk mengisi kekosongan kurunganmu, meski kamu mendapatkannya seminggu kemudian.

Seminggu kemudian, kamis setelah senin, selasa, rabu, kamis, jumat, sabtu, minggu, senin, selasa, rabu, saya mendapat tiket untuk ikut serta sebagai peserta ziarah ke Kiai Choliel Idris, Sunan Kalijaga, Ki Ageng Selo, Syech Jangkung, Maulana Jamaluddin Asmara Qandhi, Sunan Bonang, Kiai Hasyim Asy’ari, Kiai Wahid Hasyim dan Gus Dur—yang sampai hari ini tetap dipanggil “gus”, lantaran “gus” sudah naik level satu tingkat diatasnya kiai, semenjak beliau yang merintisnya. Kedua, kalau Kiai Dur, secara roso atine wong jowo kurang kepenak yo, panggah kepenak Gus Dur. Selain ziarah ke makam-makam beliau, akan ada kunjungan ke Situs Api Abadi Mrapen, Masjid Tiban Ngalam—coba cari cermin untuk baca Malang.

Seminggu kemudian, setelah yang lain menunggu keberangkatan dalam bus—padahal bayar—, sementara saya yang gratis malah enak-enakan telat berkumpul. Bicara telat, bukankah bangsa Inidinesia merupakan pelopor bangsa pencetus telat sebagai kebudayaanya. Apalagi akhir-akhir ini muncul frasa “om telat om” dari anak-anak bangsa pecinta Bus. Seminggu kemudian, yakni hari ini saya akhirnya bersama ibu-ibu jam’iyyah seninan Al Mashitoh melaksanakan perjalanan (yang katanya) religi kepada para leluhur bangsa yang hari ini lupa bapak ibunya. “Ibu, Bapak Dimana?” Begitu kata mbak Latree Manohara.



HB. Arafat, Alumnus MTs Darussalam Jetak, Wedung, Demak

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator