Pesantren Dangdut Koplo
Oleh HB. Arafat
-
Maghrib sudah berjalan, sebagaimana bus yang terus berjalan, hanya saja maghrib berjalan ke barat, bus berjalan ke timur. Maghribnya bukan yang memiliki awalan Najib partner syuting Wahyu Shubuh, maghrib yang kala senja tiba burung-burung bersujud, pohon-pohon ruku’. Saya pindah tempat duduk diantara supir dan kondektur. Artinya saya di depan sesepuh kampung, mbah Ali dan mbah Ta’ib. Saya belum makan meski Mamak sudah menawari bekal yang beliau bawa dari rumah. Saya masih pemanasan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman lantaran seharian perut dibiasakan kuat tanpa asupan makanan. Maka tak mengherankan jika banyak kiai kampung kalau bulan ramadlan tiba hanya berbuka dengan segelas teh dan sepotong jadah lalu dilanjut i'tikaf di masjid dilanjut sholat isya’ empat rakaat, tarawih dua puluh rakaat dan witir tiga rakaat—menurut Habib Umar Muthohar, kalau yang benar itu delapan rakaat tarawih dan witir tiga rakaat, kiai-kiai kampung masih punya susuk atau kembalian. Baru makan besar setelah tarawih berjamaah usai.
Saya diminta mbah Ali untuk mengumumkan kepada rombongan bahwa sholat isya’ jama’ ta’khir qoshor di waktu isya’. Setelah mengumumkannya saya kembali duduk. Daripada saya plonga-plongo memandangi gelapnya jalan, saya minta mas kondektur untuk memutarkan lagu lain yang barangkali jarang didengar ibu-ibu dan tiga sesepuh kampung—yang satunya kang Nur Hamid, namun tidak seperti siang tadi yang memutar sholawatan. “Sun sembur esem iki, masio tah udan jero ati, nono wujude ulihe ngenteni.” Lagu sudah mulai berputar. Engkau tahu itu lagu siapa? Yang tidak tahu itu lagunya siapa pasti dia ndeso, eh kota ding. Sebab itu lagunya masyarakat pantura, busnya berjalan di pantura dan pantura itu ndeso. Lagu itu dinyanyikan Nella Kharisma, artis pantura yang sedang ngepop setelah Via Vallen. “lungset ati iki.”
Tiba-tiba saya teringat seorang teman yang sekarang menjadi dosen di perguruan tinggi Purwokerto. Dia satu-satunya dosen yang penyair, yang esais, yang cerpenis, yang bikers, yang penerbit buku, yang petualang, yang kolektor mantan, yang anshor, yang NU, yang mantan lurah pondok, yang founding komunitas pondok pena, Bumiayu kreatif dan beberapa komunitas lainnya. Yang “riko ngajaki pisahan, sak temene isun salah paran, welas ring ati wis sing nono liyo, sulung tah sulung riko apuwo”. Saya kok malah ikutan nyanyi. Kembali ke dia teman saya itu yang satu-satunya memiliki yang-yang yang banyak yangnya menyatakan diri sebagai vianisty, meski sudah memiliki penghargaan dari bupati Brebes, Uut Selly Readers & Writers, dan menerbitkan tiga atau empat buku tunggalnya. Sebut saja dia Dimas Kanjeng Taat Puisi, meski bukan nama aslinya tentu engkau semua sudah tahu dia itu Dimas Indiana Senja. Saya tutupi lantaran saya tidak berkenan menjadikannya sebagaimana Syahrukhan—bukan saudaranya Cakrakhan, Jengiskhan, dan khan-khan yang lain— dalam film Fan. Sebut saja dia Dimas Kanjeng Taat Puisi yang pandai menggandakan puisi, kenangan dan mantan, nama aslinya hubungi saya via japri, jangan di grub WA forum ilfill, nanti terlampau kelihatan kalau saya bernafsu koleksi mantan.
Lagu yang dinyanyikan Nella memang asoy abis pokoknya, kece badai tsunami, keren gempa bumi, asik pasar kebakaran dan semeriah bencana-bencana yang menimpa saudara-saudara kita. Tapi bencanamu yang putus dari mantan tak akan mengguncang jagad negeri ini, lantaran mantanmu tak segairah mantan-mantannya Dimas. Jika saya Bung Karno, saya tidak butuh 100 pemuda yang tak memiliki kecintaan terhadap dangdut, saya hanya butuh 10 pemuda yang suka dangdut sebagaimana Dimas untuk menggoyang bangsa dan negara. Tapi kita perlu mempertanyakan rasa cinta Dimas terhadap dangdut itu ada motif lain sebagai kolektor mantan atau tidak. Mari kita tanyakan pada “Jaran Goyang” yang “Lali Rasane Tresno”.
“Padange sinar rembulan seindah gemerlap lintang. Wes suwe ora nyawang, opo kowe isih sayang. Nganti lali rasane tresno, opo pancen wes ra ono roso. Tresnoku nggo sliramu saiki wes luntur soko atiku.” Terdengar lagu tersebut seusainya Lungset usai di maghrib yang tidak memiliki awalan Najib. Lagu itu dibawakan penyanyi kesukaan Dimas, Via Vallen berjudul Lali Rasane Tresno. Bus memasuki kecamatan Sarang, disana ada satu pesantren besar yang diasuh oleh kiai kharismatik yang tidak ada Nella-nya, Kiai Maimun Zubair. Saya berharap kelak tidak hanya Pesantren Rock ‘n Roll yang menjadi sinetron di televisi, namun mesti ada Pesantren Dangdut Koplo. “Padange sinar rembulan seindah gemerlap lintang. Wes suwe ora nyawang, opo kowe isih sayang. Nganti lali rasane tresno, opo pancen wes ra ono roso. Tresnoku nggo sliramu saiki wes luntur soko atiku.”
—
HB. Arafat, santri Kiai Jazuli Basyir, Bareng-Kudus
