Pesan dan Tren Dangdut Koplo
Oleh HB. Arafat
-
Jika masih ada bung Karno lagi yang tidak politisi PNI —selanjutnya terpecah menjadi beberapa sekte baru, marhaenisme, supeni, massa marhaen dan konon diwarisi PDI yang juga terpecah menjadi dua sekte, PPDI dan PDIP— pastinya beliau tidak lagi mendirikan negara baru, sebab negara ini sudah final menurut beberapa orang.
Engkau tahu apa yang akan dilakukan beliau kalau menemukan 10 pemuda penyuka dangdut koplo? Pastinya beliau akan mengikuti jejak Kiai Hasyim Asy’ari —yang telah mendirikan pesantren di Tebuireng, Jombang. Dalam tempo sesingkat-singkatnya akan berdiri Pesantren Dangdut Koplo yang diprakarsai beliau. Kita baru menemukan satu pemuda itu, yakni Dimas Kanjeng Taat Puisi. “Aku tak sing ngalah, trimo mundur timbang loro ati, tak uyako wong kowe wis bali, ora bakal bali.”
Masih dalam menikmati lagu dangdut koplo saya terus mencari-cari nama selain Dimas. Ada lagi pemuda dari Demak namanya Tamam Lokajaya, Muhajir Arrosyid. Ada juga Edi AH Iyubenu yang menulis Dek Nella Kharisma dan Tabiat Kelas Menengah Kita. “Paribasan awak urip kari balung, lilo tak lakoni, jebule janjimu jebule sumpahmu, ra biso digugu.”
Masih dalam kebingungan mencari pemuda-pemuda lainnya yang saya ketahui untuk saya sowankan bung Karno, saya coba menikmati lagu Suket Teki yang dinyanyikan Nella Kharisma yang menggema di tiap sudut bus. Dentumannya suara dan lagunya tidak sekedar membuat badan saya bergoyang, namun sudah menusuk sampai kalbu. Sehingga badan saya tidak bergoyang, tapi hanya hati yang bergoyang.
Menurut dosen muda perguruan tinggi Purwokerto dalam status facebooknya, “Pada dangdut koplo, kita akan tahu satu hal, Eflina, bahwa betapapun keadaannya, joget itu yang utama. Lihat saja, sekalipun lirik lagunya sedih, irama tidak mendayu-menyemenye. Justru terlihat energik, bukan? Joget—dalam hal ini— adalah representasi dari upaya menghadapi hidup dengan keceriaan dan bahagia. Kurang keren gimana, dangdut koplo?” Maka tak mengherankan jika hampir rata-rata masyarakat pantura selalu tampak ceria, padahal ia dikejar-kejar rentenir, dibayang-bayangi tagihan bank, angsuran motor, rumah dan undangan mantan —eh bukan, mantannya tidak pasti, sebab yang pasti adalah hukum jika ada undangan, uang di kantong mesti melayang.
Tak mengherankan pula jika rata-rata santri pesantren pun selalu tampak energik tidak menyemenye meski dalam hatinya ada rindu yang mendalam pada kekasihnya, sebab dilarang membawa handpone di pesantren. Barangkali itulah yang menyebabkan Mbah Tejo berfatwa, “puncak kangen paling dahsyat adalah ketika dua orang tak saling menelpon, tak saling sms, bbm-an, tapi diam-diam keduanya saling mendoakan.”
Kali ini saya tidak peduli apa yang dipikirkan dan dirasakan mbah Ali, mbah Ta’ib, kang Nur Hamid beserta ibu-ibu jam’iyyah. Biarlah saya dianggap apatis, egois, tak memikirkan perasaan sekitar, diamlah saya sedang ‘ishq dalam dangdut koplo. Kalau ada barisan atau front yang berani-berani nyinyir di depan saya, saya akan pakai stereotipe bahwa dangdut koplo adalah budaya bangsa, mencintai budaya bangsa sebagian dari nasionalisme, nasionalisme adalah mencintai tanah air dan mencintai tanah air sebagian dari iman, maka mencintai dangdut koplo juga bagian dari iman. Maka engkau-engkau semua, tolonglah bantu saya menggenapi 10 pemuda itu, yang sudah terdaftar lima termasuk saya. Maka diamlah mereka yang nyinyir pada dangdut koplo.
Secara nilai, dangdut koplo memiliki peranan penting yang sama dengan pesantren. Jika di pesantren, santri diberi sajian kitab-kitab yang hampir rata-rata santri tidak mengetahui muallifnya, maka di dangdut koplo pun penikmatnya jarang mengetahui penulis lagunya. Jika di pesantren santri ditekankan agar bergoyang hatinya mengingat Allah, maka di dangdut koplo lebih ditekankan bergoyang badannya —syukur-syukur bergoyang hatinya pula mengingat Allah. Jika di pesantren identik dengan syair, maka di dangdut koplo identik dengan lirik lagu yang musikalitasnya sebagaimana syair. Jika saya terus-teruskan jikanya lagi maka akan engkau akan temui maka-maka yang begitu banyak. Sebab diantara pesantren dan dangdut koplo memiliki nilai yang sama-sama sebagai local wisdom bangsa Inidinesia.
Begitulah kiranya pesan dan tren dangdut koplo yang perlu kita jaga erat-erat, sebagaimana kita menjaga madrasah diniyah. “wong salah ora gelem ngaku salah, suwe-suwe sopo wonge seng betah, mripatku uwis ngerti sak nyatane, kowe selak golek menangmu dewe, tak tandur pari jebul tukule suket teki.” Hayo, yang salah siapa? Yang salah bukan Malkan Junaidi maupun N*rudin 7in yang saling berbalas surat cinta yang bukan untuk starla. Daripada meributkan yang salah tidak mau ngaku, mending kita nikmati perjalanan yang sudah sampai di depan STAI Al Anwar Sarang sembari tetap asik nyanyi suket teki.
—
HB. Arafat, Alumni Kamar Syafi’i PPRM Jagalan 62 Langgardalem Kota Kudus
