Pengetahuan, Nabi Anyar dan Ayam NU


Oleh HB. Arafat
-

Ketika sampai di depan STAI Al Anwar, mbah Taib memberitahukan bahwa inilah STAI Al Anwar yang diasuh Gus Ghofur. Kemudian beliau memberitahukan Al Anwar, MUS, MGS, pesantrennya kiai yang pernah nyerobot microphone juga, pesantrennya beliau sendiri dan mbah Ali, serta gang kediaman Kiai Maemun Zubair.

Sebenarnya tanpa beliau memberitahu, saya sudah mengetahui, lantaran sering saya kunjungi Sarang. Namun adakalanya, engkau diam dan mendengarkan meski sudah memiliki pengetahuan yang memadai untuk dikatakan tahu. Tahu mengapa semacam itu? Lantaran itu merupakan permukaan dari kemanusiaan, sementara menghargai orang lain bicara itu yang subtansial dari kemanusiaan, ngewongke uwong. Masak saya jawab “wes reti mbah” atau “saya sudah tahu mbah”. Coba bayangkan kejengkelan yang akan menghinggapi mbah Taib?

Pengetahuan itu laksana pisau, bisa engkau gunakan untuk membunuh karakter manusia, bisa juga engkau gunakan untuk memotong tali penjajahan yang membelenggu manusia lainnya. Jika engkau tidak bisa menempatkan pemakaian pisau, bisa-bisa engkau melukai sahabat, saudara, bahkan kekasihmu —ohya, engkau kan jomblo, jadi tidaklah memungkinkan engkau melukai kekasih. Tapi bisa juga melukai gebetanmu, kalau punya gebetan.

Maka adakalanya engkau diam untuk menghargai pengetahuan orang lain meski engkau sudah tahu. Adakalanya engkau menyuarakan pengetahuan dengan keseimbangan menerima dan memberi, mendengar dan berbicara. Dan adakalanya engkau mesti menjabarkan pengetahuan itu dengan syarat tanpa ada benci diantara kita —ciye yang sedang benci-bencian, tapi jangan menjadi benci yang suka mangkal di blerok atau poncol ya sembari menggoda pengguna jalan—, namun penuh kasih sayang kemanusiaan.

Bicara pengetahuan, saya jadi teringat teman-teman yang sibuk meladeni seorang nabi baru bernama Nurutin Tujuin dengan dokma barunya, agama api. Engkau tahu agama api itu apa? Bukanlah agama zoroaster yang dahulu pernah berkembang di Timur tengah. Agama api adalah agama yang panas ketika melihat karya seseorang popular dinikmati khalayak umum namun akan tunduk ketika ada segepok uang memadamkan kritik yang tak bernas dan ngelindur sebagaimana ketika engkau tidur dalam keadaan lelah. Tapi meskipun begitu, mestinya kita tidak menjadi barisan sumbu pendek yang mudah menyesat-sesatkan, mengharam-kafirkan beliau baginda nabi anyar Nurutin Tujuin.

Kalau lah mau mengkritik, kritik yang elegan dan keren sebagaimana kritik —eh bukan kritik tapi surat cinta yang bukan untuk starla— bang Malkan Junaidi. Sebab kalaulah masih nabi, tidak memiliki kewajiban risalah menyampaikan sebagaimana rasul. Baiknya nabi anyar Nurutin itu menyimpan segala pengetahuan, informasi yang sanggup melukai perasaan orang lain meski analisanya itu ilmiyah. Sebab tidak semua pengetahuan, informasi dan kebenaran harus disampaikan kepada orang selain dirimu sendiri. Sebab tidak ada kebenaran mutlak yang dimiliki oleh manusia meski seorang nabi sekalipun. Jadi mbok biso rumongso wae, jangan rumongso biso wahai nabi anyar, engkau hidup di tanah yang rumongsonan.

Tahukah engkau bahwa kasuistik nabi anyar di atas hanyalah kisah fiktif saya belaka meski buku esainya tentang seorang pemilik lembaga survey sudah beredar ke setiap sudut tanah bangsamu. Sementara sesuatu yang fiktif akan menjadi mitos di masa depan. Maka jangan percaya dengan dua paraghraf di atas lantaran ke-shahih-annya belum saya tashihkan kepada pemilik kebenaran. Lebih baik kita kembali menikmati kesyahduan kota santri Sarang, lantaran saya memiliki banyak teman dan saudara yang alumni Sarang. Diantara yang mungkin perlu engkau ketahui ialah Raedu Basha —bukan Raedu Basah sebab anu, tapi Raedu Basha yang Badrus Shaleh. Raedu Basha merupakan penulis Mata Pangara, The Melting Snow dan terbaru yakni buku Hadrah Kiai, pemesanannya bisa menghubungi Ganding Pustaka.

Dia ini berbeda dengan nabi anyar yang fiktif tadi, lantaran teman saya ini NU tulen, bahkan tempat asalnya yakni Madura tidak lagi ada Islam, adanya NU. Sampai-sampai ayam, kambing, kecoa pun NU.



HB. Arafat, Alumni Ponpes Raudlatul Muta’allimin Jagalan 62 Langgardalem Kota Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator