Pasar Formasi


Oleh HB. Arafat
-

Sepanjang jalan menuju makam Maulana Ibrahim AsSamarkand yang kanan kirinya semakin ramai pedagang kami masih membicarakan formasi-formasi ideal untuk imam besar. Suasana pasar di makam Maulana Ibrahim AsSamarkand kini seperti ramainya pasar-pasar makam wali songo lainnya. Padahal kalau dihitung secara usia, Maulana Ibrahim merupakan bapak walisongo selain Maulana Malik Ibrahim Gresik dan Maulana Ishaq. Maulana Ibrahim Assamarkand merupakan ayah dari Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel), sementara Raden Ali Rahmatullah memiliki putra Raden Mahdum Ibrahim (Sunan Bonang), Raden Qosim (Sunan Drajat). Selain itu Raden Ali Rahmatullah juga memiliki murid Raden ‘Ainul Yaqin (Sunan Giri), sementara Raden Mahdum Ibrahim memiliki murid bernama Raden Syahid (Sunan Kalijaga) dan Raden Syahid memiliki putra Raden Umar Said (Sunan Muria).

Jadi secara nasab, Maulana Ibrahim memiliki kedudukan yang tinggi dari enam wali songo, namun pasar di area makam beliau kalah cepat ramainya daripada keenam wali yang berada di bawah garis nasab keturunan dan keguruan beliau. Mengapa begitu? Barangkali yang berkaitan mengenai wali versi travel bisa menjadi rujukan ramai sepinya pasar. Tapi kalau dilihat dari rute dan lokasi makam, tentunya pasar makam Maulana Ibrahim harusnya lebih ramai daripada pasar makam Sunan Muria yang berada di kawasan puncak gunung muria, Kudus. Lalu apa coba yang menjadi persoalannya, Takdir Allah? Tentu itu menjadi hal yang paling utama dari “kenapa” yang perlu kita pertanyakan. Kalau engkau ada yang tahu dan bisa menjawab silahkan kirim jawabannya ke esaimini dalam bentuk tulisan, sebab kalau dikirim ke pemda setempat atau pemprov, belum tentu akan segera ditindak lanjuti, kecuali engkau menyediakan beberapa wartawan yang hendak meliput serta kamera dalam mode “on”.

Ramainya pasar, itu tergantung bagaimana seorang pimpinan dalam mengatur strategi dan formasi dalam pertandingan pasar, yang katanya sudah mulai memasuki era pasar bebas. Kayak pergaulan aja bebas, kos juga nyarinya yang bebas, tempat juga nyarinya yang area bebas merokok. Apapun akan serba bebas nantinya, kalau yang kita ikuti adalah gelombang matrealisme. Namun kalau kita mengikuti gelombang spiritual dan nilai, kita akan menjaga suatu pertahanan nilai, agama dan kebudayaan. Kita akan benar-benar menjaga gawang agar tidak kebobolan. Bukan malah beknya minggir memberi kesempatan pemain Tiongkok untuk menjebol aset-aset bangsa, memberi peluang untuk pemain Amerika untuk mencetak gol Freeport—kan port-nya sudah free, makanya bangsamu cuma dapat kecil prosentasenya— serta pemain-pemain lawan lainnya dari arah Barat, karena gawang kita berada di timur. Dan jangan sampai ada pemain lawan yang berkostum merah putih, jika itu terjadi dan pemimpinnya tahu namun pura-pura tidak tahu, carok wae! Panggilkan imam besar front pembela mantan, biar dibego’-bego’in. Tarji’!

Katanya kemarin tim asuhan Sir Rizieq Syihabuddin Al Habib sedang melaksanakan pertandingan di stadion senayan de-pe-er. Anehnya Sir Rizieq Syihabuddin Al Habib tidak hadir, sedang sibuk liburan di Saudi bersama bunda Virza makan Fitsa Hut. Anehnya lagi, mereka memakai formasi yang mestinya tidak diperbolehkan dalam pertandingan sepak bola. Formasi yang mereka mainkan kemarin yakni 2-9-9. Masak ada permainan sepak bola yang dimainkan oleh 21 pemain? Tapi berhubung itu terjadi di negara dan bangsamu, peraturan FIFa—bukan suatu lembaga pembiayaan kreditan motormu ya— tentunya thagut dan tidak terlalu penting untuk dilaksanakan. Kalau di bangsa saya nasib FIFa juga sama nasibnya sebagaimana di bangsamu, tidak akan terpakai peraturan itu, sebab kami memiliki otoritas yang tidak boleh diatur-atur siapapun bahkan setan pun tidak punya hak meski sekedar bisik-bisik. Meski begitu tetap saja peraturan total pemain juga sama sebagaimana yang berlaku bagi FIFa yakni 11 pemain lawan 11 pemain, bukan 21 pemain lawan 11 pemain.

Sepak bola cap apa itu kalau semacam itu. Maka tidak mengherankan komentator mantan Sir Aqil mengkritisi pertandingan yang di gelar oleh tim front pembela mantan. Tapi tak apalah sebab bangsamu sudah terlalu banyak dosanya, terlalu banyak selingkuhannya, selingkuh dengan paman sam, selingkuh dengan koh cino, selingkuh dengan lek londo, ah sudahlah. Tapi kalau tidak begitu pasar di bangsamu tak akan laku dan sepi. Sementara itu, kami dua meter sampai di masjid makam Maulana Ibrahim, pasar tetap mencoba merayu kami untuk memasuki tawar menawar dan akhirnya membeli, namun kami belum tergoyah iman untuk membeli barang—lantaran dompet kami terlalu tebal dengan uang receh 500,- dan 1.000,-.

Sebelum sampai masjid makam Maulana Ibrahim, saya menghubungi seorang sahabat bernama mas Warga. Barangkali beliau bisa menjawab pasar formasi yang tepat untuk saya tawarkan kepada Sir Rizieq Syihabuddin Al Habib untuk dibelinya sebagai formasi yang tepat untuk mengalahkan JKW Fc, Mega United, JK Groub, PT. Keruk Semen dan tim-tim liga di negaramu. Tapi bukan sebab itu saya menelpon mas Warga. Saya hanya ingin mengabarkan padanya bahwa saya di kota Tuban. barangkali ia memiliki waktu luang untuk menemui saya, mengajarkan bagaimana cara menulis cerpen atau sekadar rasan-rasan Nurutin Tujuin.



HB. Arafat, Santri Kiai Hasan Fauzi, Bendan-Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator