Mendadak NU adalah Muhammadiyah yang Lain
Oleh HB. Arafat
-
Saya masih menertawai diri kami sendiri, bukan Muhammad NU, bukan Nahdlatul Muhammadiyah, bukan FPI, LDII, HTI—eh kan sudah dibubarin ya—, PKI—eh ini malah terlarang, nanti malah kami dikira anteknya. Lebih-lebih kami masih doyan daging, yang penting bukan daging yang dilukiskan Gus Mus. Kami adalah daging yang masih doyan daging, maka biar kami tidak terkena slilit, kami berusaha menertawai kami yang daging.
Lek Shobirin memang asyik untuk membuat saya terbahak-bahak, apalagi secara sosiologis beliau ditempa dengan keadaan wetan desa dan kulon desa yang berbeda. Dahulu, semasa “penak jamanku to”, desa tersebut sedikit-sedikit mengalami konflik. Apalagi dahulu, jamannya trisakti, konflik mengenai PK-I lebih ngeri-ngeri sedap
Mendadak terdengar suara gamelan, nang-neng-nong-nung-nang-neng-nong. “Mantene wis teko” tutur lek Shobirin. Sementara mimik wajah saya seketika pindah gigi, dari tertawa menjadi mbesengut. Baper, belum diberi hidayah untuk memasuki jalan kebenaran nikah. Tapi mbesengut saya tidak bertahan lama sebagaimana rinduku yang teramat lama padamu. “Lek, sebagaimana NU dan Muhammadiyah kan sudah mantenan lagi.” Jawab saya agar tampak tegar melihat sepupu saya menggandeng kekasih sah versi KUA.
Mendadak saya merinding melihat mereka berdua, seperti film-film horor, terdengar suara “jangan katakan cinta, menambah beban rasa, sudah simpan saja sedihmu itu, ku akan datang. jangan katakan cinta, menambah beban rasa, sudah simpan saja sedihmu itu, ku akan datang.”—paling pas jika dilagukan seperti lagunya Dewa 19. Tapi suaranya suara cewek, bukan suara Ari Lasso atau Once. Saya merinding-merinding nikmat tapi takut sebab ada yang mesti saya lakukan tiap menatap pernikahan di depan mata.
Suara itu disusul dengan suara lain, “Bila nanti saatnya telah tiba, kuingin kau menjadi istriku, berjalan bersamamu dalam terik dan hujan, berlarian kesana-kemari dan tertawa.” —paling merinding jika dilagukan sebagaimana Payung Teduh melagukannya. Sebagaimana NU yang telah menikahi Muhammadiyah, saya ingin menjadi nahdliyin yang baik, menikahimu yang muhammadiyin. Mendadak gelap dan bukan resepsi pernikahan yang saya tatap. Melainkan di Goa Kreo, saya menjepret diri sendiri. Tapi ketika saya melihat hasil jepretannya, wajahnya tirus memakai jilbab merah, jaket hitam dan baju dalaman putih. Dalam senyumnya tampak gigi kelincinya.
Mendadak suara lek shobirin menyadarkan saya. Ternyata penyakit saya kambuh lagi. Penyakit berkhayal di tempat-tempat yang mendadak. Tidakkah engkau melihat sesungguhnya mereka berkelana pada tiap-tiap lembah (khayalan).[1] Imajinasi ada kalanya menjadi kegelapan bagi manusia, ada kalanya menjadi musuh nyata bagi realitas dan ada kalanya menjadi cahaya bagi yang gelap pikir dan hati. Sebagaimana NU, ada kalanya menjadi saya, ada kalanya menjadi engkau, ada kalanya menjadi Muhammadiyah, begitu sebaliknya. Sebab engkau adalah saya yang lain. Sebab NU adalah Muhammadiyah yang lain.
—
[1]
(ألم تر أنهم في كل واد يهيمون (الشعراء، ٢٢٥
—
HB. Arafat, murid Bapak Moh. Udaib Suyono
