Medayoh Tresno
Oleh HB. Arafat
-
Al jannatu wa naimuha sa’dun liman yu sholli wa yusallimu wa yubarik ‘alaih. Maulid sudah dibacakan salah satu anak Narju Syafaah[1], namanya Dhani, masih kelas 6 Madrasah Ibtida’. Jamaah lainnya menyahut dengan Allahumma shalli ‘alaih. Ia baca sampai akhir bagian, di setiap kalimatnya disahut jamaah lainnya dengan Allahumma shalli ‘alaih. Suatu orkestra, tertrikal komunikatif yang dipersembahkan untuk Kanjeng Nabi Muhammad. Komunikasi cinta antara pembaca dan pendengar (yang ikut membaca shalawat) maulid.
Bisakah engkau menemukan media, ruang, acara semacam ini di seluruh penjuru Dunia selain di tanah penggalan surga, Nusantara. Bangsa kita adalah bangsa yang pandai mengalihkan benci menjadi cinta, tai menjadi roti, sakit menjadi nikmat, dicuri menjadi memberi. Inilah bangsa yang pandai menciptakan sudut pandang yang tidak dimiliki bangsa-bangsa lain, baik sekarang dan masa lampau. Maka tidak mengherankan, ketika Kanjeng Nabi Muhammad menyebut seseorang yang cintanya begitu ngedap-ngedap, beliau menunjuk tanah ini. Maka tidak mengherankan jika Dhani, anak yang belum baligh sanggup membaca teks arab dari al Barjanzi dengan baik, benar dan fasih. Selain Dhani, banyak anak-anak bangsa yang multikultural ini menjadi seorang hafidz al Qur’an, qori’ international, bahkan ada yang sudah menjadi penghuni surga menanti bapak ibunya untuk disyafaatinya.
Bagian kedua al Barjanzi mulai dibaca Husnul, anak Madrasah Ibtida’ kelas 5. Kemudian bagian ketiganya dibaca Rizal, anak kelas 6 Madrasah Ibtida’, dan yang bagian empat dibaca Albab, anak kelas 4 Madrasah Ibtida’. Wa akhodzaHal makhodhu fa waladat hu shallallahu ‘alaihi wa sallama nuran yatalaa lau sanaah. Kami membacanya bersama-sama saat Albab membaca kalimat tersebut. Kemudian kami berdiri, indal qiyam, mahallul qiyam, saya mulai menundukkan diri dan memejamkan mata. Mas Arinal mulai melantunkan Ya Nabi salam ‘alaika, Ya Rasul salam ‘alaika, Ya Habib salam ‘alaika, Shalawatullah ‘alaika. Angin mulai hadir semilir, berembus dari luar masjid, sementara saya tidak bisa menentukan darimanakah arah angin berasal. Seperti semua mata angin memandang masjid dan anginnya menuju masjid.
Asyroqol badru ‘alaina, Fahtafat minhul buduru, Mitsla husni maa roaina, Qothu ya wajhas sururi. Bulu belakang leher saya mulai ikut berdiri, mahalul qiyam, ingin menghormati kekasih Pemilik Semesta. Anta syamsun anta badrun, Anta nurun fauqo nuri, Anta Iktsiru wa gholi, Anta mishbahus suduri. Saya mulai tidak mendengar suara dendangan bass dan jidur, namun suara Mas Arinal dan rebana masih terdengar, meski samar-samar. Ya habibi ya Muhammad, Ya arusal khofiqoini, Ya muayyad ya mumajjad, Ya imamal qiblataini. Suara Mas Arinal dan iringan rebana kini lenyap, yang terasa hanya semilir angin yang begitu lembut. Man roa wajhaka yas’ad, Ya karimal walidaini, Haudluka shofil mubarod, Wirduna yauman nusuri. Semakin lama, semilir angin semakin lembut selembut bisik-bisik yang tidak saya dengar. Marhaban ya waliyal hasanati, Marhaban ya rofiad darojati. Aroma wangi mulai tercium, saya rasakan ada yang berdiri di hadapan saya.
Marhaban marhaban ya nurul ‘aini, Marhaban marhaban jaddal husaini. Tiba-tiba saya merasakan kang Dul di samping saya. Marhaban kaffir anni sayadzunuba, Marhaban waghfir anni sayyiati. Ia membisikkan, bahwa usianya ia taruhkan, ia rela usianya diambil beberapa tahun demi kesembuhan emak mertuanya. Marhaban marhaban ya nurul ‘aini, Marhaban marhaban jaddal husaini. “Biarkan usiaku dipersingkat asalkan manfaat, daripada aku panjang usia sementara emak yang begitu dicintai istriku, kucinta juga merasa kesakitan dan takutku beliau tak tertolong. Maka aku rela mengkorbankan usiaku, demi cinta agar tetap tumbuh diantara kami.” Bisik kang Dul disertai mulut saya melantunkan Anta ghoffarul khotoya Ya Allah, Wadz dzunubi mubiqoti Ya Allah.
Robbi faghfirli dzunubi Ya Allah, Bibarkatil hadi Muhammad Ya Allah. Tiba-tiba ada yang menarik tangan saya, sebagaimana orang bersalaman, tapi bukan kang Dul. Anta sattarul masawi Ya Allah, Wa muqilu atsarati Ya Allah. Saya cium tangan itu, aromanya wangi. Wangi yang belum pernah aku temui dari minyak apapun. Alimus sirri wa akhfa, Mustajibud da awati, Rabbi farhamna jami'a, Bi jami'is sholihati. Thola'al badru 'alaina, MinTsani yadil wada', Wajaba syukru 'alaina, Maa da alillahi da. Marhaban ya marhaban ya nurul 'aini, Marhaban jaddal husaini, Marhaban marhaban. Marhaban ya marhaban ya nurul 'aini, Marhaban jaddal husaini, Marhaban marhaban. Sholallahu 'ala Muhammad, Sholallahu 'alaihi wasalam, Sholallahu 'ala Muhammad, Ya Rabbi sholli wa salim.
—
[1] Grub rebana Masjid Beth Takin, namanya dinamai oleh Kiai Budi Hardjono.
—
HB. Arafat, murid Kiai Nur Syahid, MF
