Kisah Biasa dari Manusia-Manusia Biasa [2]


Oleh HB. Arafat
-

Adzan maghrib yang biasa saja sudah selesai dikumandangkan. Saya masih duduk-duduk sembari ngopi dan ngudud di bale timur rumah menatap manusia-manusia yang usianya serupa aroma tanah bergerak jalan menuju masjid. Tentunya saya sudah memakai baju muslim—entah bersyahadatnya kapan, saya belum menanyainya— dan peci putih yang atasnya ada warna merah. Melihat mbah Muslih sudah berjalan, disusul mbah Shofi’i, lalu mbah Nashihun, mbah Haji Jamal, Pak Shonhaji, sementara yang muda biasanya baru berangkat ketika iqomah sudah selesai, dan rata-ratanya mereka menjadi jamaah masbuq. Untung Gusti Allah tidak suka memberi denda kepada jamaah yang telat, tidak seperti Pak Nur Syihab, kepala madrasah tetangga desa yang sukanya memberi denda kalau mendapati muridnya telat. Meski seribu, namun itu berarti bagi anak-anak yang sakunya hanya seribu, sebab jarak rumah dengan madrasah sangat jauh dan itu sebagai bekal untuk beli es gempolnya mbak Nur Hasanah.

Melihat manusia-manusia yang sudah rapuh itu, dalam ngopi ngudud sunyi saya menemukan bahwa cinta, rindu tidak memandang usia dan nasib seseorang. Siapa yang sudah disadarkan akan hadirnya cinta, meski usianya setua mbah Muslih, maka ia akan sesegera mungkin menemui kekasihnya di masjid—padahal sejatinya beliau tahu bahwa cintanya sudah menyatu dalam dirinya. Siapa yang sudah dihadirkan rindu pada hidupnya, meski kaya sebagaimana mbah Haji Jamal, secepatnya beliau tanggalkan dunianya untuk menuntaskan rindu itu. Sementara kita yang muda, yang kekayaannya belum menemu titik koordinat yang pas, belum tahu nikmatnya rindu ketika pertemuan datang. Siapa yang hidupnya penuh cinta dan rindu, ia tak akan berhenti merasa bodoh, sebagaimana Pak Shonhaji, meski sudah memiliki makmum yang banyak, ia masih bersedia menjadi makmum. Sementara kiai muda sebelah timurnya balai desa, tapi ngalor sedikit, ilmunya banyak namun masih suka nyerobot microphone yang di pegang kiai lain.

Pujian-pujian ala kampung dilantunkan, waktunya saya bergegas ke masjid sembari ngududnya tetap tunai. Saya malu kepada mereka yang sudah beraroma tanah, namun masih setia menegakkan cinta dan rindu. Di teras masjid saya mengamati belum ada satu pun pemuda yang sampai di masjid, kemudian lek Nur wahib, usianya diantara muda dan tua, datang menghampiri saya, sembari di tangannya masih menyala rokoknya. Ia duduk di sebelah kiri saya, menunggu iqomah dan sandi “ehem-ehem” bahwa imam sholatnya sudah datang. Suara “ehem-ehem” yang dinanti sudah bersuara, dilanjut iqomah, sementara rokok saya yang masih separuh terpaksa saya matikan untuk dilanjutkan nanti sehabis sholat. Demi cinta saya padamu, nyala rokok yang masih separuh saya matikan. Meski tidak enak rasanya, demi cinta dan rinduku padamu, apapun itu meski tidak enak dan nyaman, harus saya tempuh dan perjuangkan. Oh ya, bagaimana kabar pejuang shubuh yang berkoar-koar di instagram, ya?

Sebagaimana sholat maghrib biasa yang dilanjut wiridan ala-ala nahdliyin, kami telah menunaikannya. Tidak perlu lah diceritakan bagaimana prosesnya, engkau-engkau pasti sudah khatam. Kalau saya ceritakan, kalau ada stasiun televisi lewat, bisa-bisa saya disodori surat kontrak karya untuk menjadikan saya sebagai ustadz. Menjijikkan bukan? Orang-orang yang mengikuti jejak rasul, nabi yang ummi, yang mereka temukan termaktub dalam Taurat dan Injil menurut mereka, untuk melaksanakan yang ma’ruf dan menghindar dari perbuatan keji dan menghalalkan bagi mereka yang thoyyib dan mengharamkan atas mereka yang menjijikkan dan membuang dari mereka beban-bebannya dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman denganNya, memuliakanNya, membantuNya dan mengikuti cahaya yang diturunkan kepadaNya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.[1]

Di depan teras masjid usai wiridan selesai, saya mendapati Komeng, Waito, Iblis, Suyut, Penyok, Doyok, Sarno, Duck, Bambang, Sutris, berbincang agak panas. Ada berita apakah sampai mereka sebegitu serius namun tetap dalam koridor mesra. Ternyata grup dunia maya yang dibuat pihak pemerintah desa akan dibubarkan dan dihapuskan. Mereka sebenarnya biasa-biasa saja, namun sikap mas Ali yang terkesan menampilkan otoriterisme pada masyarakat desa yang domisilinya di dunia maya. Dalam hati saya tersenyum dan bersyukur, pak Lurah berani bersikap menjadikan masyarakatnya untuk bermental orang-orang dahulu. Kalau mau mengkritik, kritik di depan mata. Kalau mau mbalang pak lurah, balanglah di depan mata. Kalau mau misuh, misuhlah di hadapannya, jangan di sosmed. Biasakan semacam itu, Mblo.



[1]

الذين يتبعون الرسول النبي الأمي الذي يجدونه مكتوبا عندهم في التوراة والإنجيل يأمرهم بالمعروف وينهاهم عن المنكر ويحل لهم الطيبات ويحرم عليهم الخبائث ويضع عنهم إصرهم والأغلال التي كانت عليهم. فالذين آمنوا به وعزروه ونصروه واتبعوا النور الذي أنزل معه، أولئك هم المفلحون. (الأعراف،١٥٧)ه


HB. Arafat, murid Bapak Abdul Wachid, Telukwetan, Welahan, Jepara

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia

Perubahan Budaya adalah Koentji