Kembalinya Wanita Itu


Oleh HB. Arafat
-

Tangi nang, tangi.” Suara mak dhe Sri sembari menepuk kaki saya agar saya terbangun dari jok yang beliau duduki. Saya terbangun, rupanya ziarah ke makam Ki Ageng Selo sudah khatam. Saya menyesal mengapa mimpi seindah jalan-jalan di kahyangan tapi seram sebagaimana rumah hantu dalam film horor, harus disudahi dengan bangun tidur yang menyesalkan oleh kenyataan saya tak ikut ziarah ke simbahnya kang Dul. Saya kembali ke tempat duduk disampingnya kang Toha. Bus berjalan menuju pati, menuju makam Syech Jangkung, biasa kita mengenalnya dengan nama Mbah Sariden.

Sepanjang perjalanan saya mengingat-ingat mimpi itu. Siapa wanita itu? Seperti wanita yang hadir dalam mimpi bus Haryanto Kudus-Yogyakarta, tapi wanita yang ini lebih kurus dari yang itu. Wanita yang ini tidak memakai kacamata, bajunya tidak merah, tapi saya seperti pernah menemuinya, tapi kapannya saya tidak mengingat persis. Dalam percakapan, kami seperti saling mengenal, seperti seorang sahabat yang saling menyayangi satu sama lain. Seperti seorang kekasih yang lama tidak bersua, ketika bersua saling menumpahkan rindu. Seperti sepasang suami-istri yang sedang menyelesaikan sebuah permasalahan.

Wahai para jomblo yang belum menemukan kasih sayang yang material, janganlah kalian baper sebab mimpi yang tak jelas siapa gerangan. Sesungguhnya telah nyata kasih sayang yang telah dikaruniakan kepadamu agar engkau tak bersedih, yakni nikmat nyawang kesana-kemari. (Surat Jomblo, ayat 21-22).Tapi siapa dia? Jangan-jangan ia Rabiah Adawiyah, Siti Asiyah, Siti Aisyah, R.A Kartini, Megawati Soekarnoputri. WaAllahu ‘alam, yang penting basah mimpi saya.

Perjalanan berlanjut, saya lamat-lamat kembali tertidur. Harap dimaklumi, sebab dalam keadaan lapar dan dahaga beserta lelah yang bertumpuk-tumpuk. Tetiba di Pati, tepatnya kecamatan Kayen, pasnya makam Syech Jangkung, saya dibangunkan kang Toha, alhamdulillah bisa bangun dengan loyo. Aku* mana, aku* mana, air mineral mana. Panasnya sepanas anak neraka yang turun di bumi, bukan main-main ini guys, tapi saya sedang puasa. Manusia puasa tidak boleh kalah hanya dengan panas yang sepersekian persennya panas neraka, apalagi sama aku* yang katanya air mineral menyehatkan itu.

Dari parkir bus menuju makam menempuh jarak yang bisa dibilang pendek. Meski begitu para ibu-ibu menaiki ojek untuk tidak gosong kulitnya, sebab akan cepat sampai tanpa menahan sengatan panas. Saya, kang Toha, lek Ali Ridlo berjalan kaki menyusuri panas yang tak bisa saya ukur kadarnya. Bicara panas, perlu kita pertanyakan panas itu makhluk yang seperti apa? Kalau engkau menjawab panas itu api, lalu mengapa Gusti Ibrahim tidak terbakar saat dibakar raja Namrud. Berarti variabel antara panas dan api tidak satu paket, artinya, tidak semua api itu panas, tapi biasanya api itu panas. Lalu siapakah panas itu? Panas itu ketiadaan dingin dan dingin adalah ketiadaan panas. Jika panas dan dingin tidak ada itu artinya engkau mati rasa. Perlu ke rumah sakit untuk periksa kulit. Jangan sampai salah membawa kartunya, kartu Inidinesia sehat—biasa disingkat KIS, nanti akan disuntik atau menyuntik sama bu dokter— yang benar, bukan kartu Inidinesia pintar meski tidak pintar-pintar.

Seusai ziarah, rombongan langsung menuju bus, meski sebagian mengadakan ibadah berbelanja. “Kok tidak sholat mak?” saya bertanya pada mamak, bukan pada presiden, sebab presiden masih sibuk dengan pemotretan citranya. “Tadi sudah di makam Ki Ageng Selo.” jawabnya. Saya pun memintakan mamak agar rombongan menunggu saya sebentar untuk sembahyang dhuhur dan ashar jama’ta’dhim qoshor lillahi ta’ala di masjid sebelah makam.



HB. Arafat, santri Kiai Durrun Nafish, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator