Dulur Papat Pancer Limo
Oleh HB. Arafat
-
Saya kira perjalanan sudah sampai di Makam Ki Ageng Selo, Tawangharjo, Grobogan, sebab dalam jadwal setelah Makam Sunan Kalijaga langsung kesana. Ternyata baru sampai Situs Api Abadi Mrapen yang sejarahnya tidak bisa dipisahkan dengan transisi pemerintahan Majapahit menuju pemerintahan Demak. Konon waktu transisi dari Mojokerto ke Demak, rombongan raja melintasi Mrapen. Saat itu rombongan sedang kehausan, maka Raja Fatah menancapkan tongkatnya lalu dicabut agar keluar air. Namun ijin Allah berkehendak api yang menyembur keluar. Kemudian di sekitar tempat api keluar beliau menancapkan tongkat kembali dan hasilnya keluarlah air jernih untuk diminum seluruh rombongan. Sementara watu bobot yang berada disebelah api abadi adalah peralatan kerajaan yang tertinggal saat singgah disana.
Begitulah kisah tentang Api Abadi Mrapen, setelahnya yang bisa saya kabarkan adalah mendidihnya sendang yang keluar air dari pencabutan tongkat yang kedua. Mendidihnya air itu disebabkan oleh Mpu Supa yang menyepuh keris permintaan Kanjeng Sunan Kalijaga pada sendang tersebut. Maka tersusunlah formasi situs kebudayaan berupa Api, Air, Batu dan Gas. Sungguh situs kebudayaan yang mencerminkan falsafah kebudayaan jawa, dulur papat pancer limo. Namun keempat elemen itu ialah format falsafah dulur papat pancer limo versi jawa-hindu. Kalau versi lainnya bisa engkau cari sendiri di buku-buku perpustakaan yang terdekat denganmu. Kalau perpustakaan terdekat dengan saya adalah engkau yang bersemayam dibalik baju putih, rok dan jilbab hitamnya. Kalau yang ini silahkan cari sendiri pada kedalaman yang paling dalam dari cinta saya.
Berbicara dulur papat pancer limo adalah wilayah kharisma, bukan lagi intlektual dan kekuatan. Sehingga kalau engkau-engkau membaca tulisan ini dengan sedikit intlektual dan sedikit kekuatan matamu melihat, maka engkau tak akan sampai menemukan kedalamannya. Lebih baik engkau matikan terlebih dahulu kepandaian dan kekuatanmu untuk menikmati kharisma. Kharisma kalau di dunia one piece disebut sebagai Haki. Haki dibagi menjadi tiga, Kenbunshoku Haki, Busoshoku Haki, Haoshoku Haki. Selebihnya mengenai Haki bisa engkau tonton serialnya sendiri atau searching di selancar yang engkau senangi. Kembali ke ziarah yang diselenggarakan ibu-ibu jam’iyyah Al Masyithoh.
Saya terbangun ketika bus berhenti di situs Api Abadi Mrapen. Saya menyesal betapa tidur saya terganggu dengan mampirnya bus rombongan disini. Sebab saya yang gersang, yang sedang mengharamkan diri dari segarnya sprute, apapun makanannya minumnya teh saja dan kurang konsentrasi butuh aku kan, harus memaksakan diri untuk ikut merapat turun melihat-lihat situsnya. Saya juga menyesal, mengapa di siang bolong seperti ini, kami mesti memandang cahaya api. Sebagaimana kiai-kiai ketika mengisi ceramah di tengah orang-orang alim, mereka selalu berkata ceramahnya seperti menggarami samudera yang sudah garam. Saya rasa kami sedang memandangi cahaya di tengah cahaya yang benderang. Bisa menjadi kesia-siaan dan biasa saja—yang bukan band pengiring di Gambang Syafaat.
—
HB. Arafat, santri Kiai Abdul Basith Al Hafidh, Janggalan-Kudus
