Di Masjid Parkir Pada Jam Smartphone Ada Proyek Pembangunan, Kebangkitan Mantan dan Penistaan Sepak Bola
Oleh HB. Arafat
-
Waktu kota Tuban khususnya kawasan parkir makam Maulana Ibrahim AsSamarkand, menunjukkan pukul 21.00 WIB versi jam smartphone O**O milik saya. Saya sebutkan secara mendetail karena aslinya tiap jam smartphone tiap orang akan berbeda selisih detik, menit bahkan jamnya, apalagi kalau jamnya masih menggunakan handpone jadul no*ia, mot*r*la, dan merk-merk lainnya. Mengapa saya tidak memakai waktu jam dinding ataupun jam tangan itu sebab kedua jam itu sudah tidak dianggap lagi oleh pemuda-pemuda kayak kita ini yang kece namun tidak memble. Selain itu banyak toko jam tangan dan jam dinding yang gulung tikar, tikarnya bolong, ditambal jadah, jadahnya mambu, makankan asu, asunya mati, kinthirkan kali, kalinya asat, gantungkan pagar, pagarnya ambruk, taruhlah ngebuk. Malah nyanyi dayohe teka, gelarkan tikar, selain gulung tikar juga tutup gerai, close store, pokoknya yang hari ini masih bertahan dengan manual akan digeser neo-digital yang berjaring tanpa laba-laba meski banyak labanya.
Saya menuruni bus dengan setengah nyawa, atau malah seperti tom ketika terkaget-kaget dan nyawanya terbagi menjadi sembilan atau ketika tom bangun tidur, sementara nyawa-nyawanya masih jalan-jalan atau sedang mengejar jerry. Setelah ini rombongan akan melaksanakan sholat maghrib dan isya’ berjamaah jama’ ta’khir qoshor sesuai pengumuman yang sudah saya udarakan via mikrophon anthena. Hampir semua ibu-ibu kebingungan dengan masjid yang tak mereka kenali sebelumnya, lantaran masjidnya tidak sesuai dengan masjid Maulana Ibrahim Assamarkhand, saya pun begitu. Ini masjid parkir kawasan makam, jadi maklum kalau kami kebingungan. Setelah sekian lama kami tak mengunjungi Maulana Ibrahim telah banyak terjadi renovasi dan pembangunan. Pembangunan baik gedung maupun jalan merupakan proyek idaman bagi pemerintah, lantaran proyek-proyek itu abadi tanpa henti. Apalagi kalau proyeknya akan berkembang dengan adanya income bagi pemerintah. Ruang-ruang semacam itu menjadi peluang rayahan pejabat-pejabat, proyektor-proyektornya.
Sementara ibu-ibu bertanya-tanya kepada pemilik warung sebelah masjid parkir—maaf saya tidak mencari nama masjid itu jadi sebut saja namanya masjid parkir—, saya melanjutkan berbuka edisi tunda dengan rokok, sebab di Sluke saya kurang menikmati rokok dan kopi dalam berbuka. Apalagi ditambah dengan bumbu PKI, eh bukan PKI tapi mantan. Tentunya dengan secangkir kopi yang saya pesan di warung tersebut. Ditemani kang Toha, obrolan kami hanya sebatas pada pertandingan sepak bola, tidak melebar—sebab kalau melebar lawan akan mendapatkan lemparan ke dalam hatimu—, tidak pula melewati batas—kalau melewati batas jebakan offside kapten Tsubasa akan melongo dibuat jebakannya Misugi— yang engkau sendiri tahu lima tahun ini sepak bola kurang gairah lantaran pensiunnya Sir Alex Ferguson. Untung tahun ini Jose Mourinho datang sebagai penyelamat kekurangan gairah sepak bola itu, gloria in excelsis deo, gloria in excelsis deo, angels we have heard on high, singing sweetly through the night, and the mountains in reply, echoing their brave delight, gloria in excelsis deo, gloria in excelsis deo. [1]
Ups, saya kok malah nyanyi lagu yang katanya beragama katolik itu, padahal sejatinya lagu tidak memiliki agama bukan? Tapi saya minta maaf kepada segenap umat Islam dan Nashrani kalau-kalau nanti saya dipasalkan sama dengan pasalnya pak Ahuka, penistaan agama. Maka dengan kerendahan hati atas terpelesetkannya mulut saya selama beberapa menit itu, saya minta maaf kepada kedua umat beragama yang saya sebut tadi. Saya bukan calon Gubernur, bukan politisi, saya mah apa atuh, cuma penulis yang belum tenar setenar Nurutin Tujuin dan Denny Cagur. Selain atas pertimbangan permohonan maaf saya, status saya juga perlu engkau pertimbangkan untuk tidak melaporkan saya kepada pengadilan yang engkau percayai sebagai thagut. Jadi jangan percaya dengan bla, bla, bla, jadian saja yuk, dari pada engkau menjomblo terus. Jadi jangan laporkan saya kepada yang engkau anggap thagut. Tahlil! Tahmid! Tasbih! Tarji’!
Sebenarnya yang ingin saya nyanyikan itu glory glory man united, glory glory man united, glory glory man united, as the reds go marching on on on! [2] Tapi ah sudahlah, sudah terlanjur gloria, berbuka, merdeka. Toh saya tetap dalam obrolan yang dibumbui asap nikotin dan aroma kafein di warung sebelah masjid parkir, meski proyek pembangunan, isu kebangkitan mantan menghantui pikiran saya. “Wis lah rausah bahas bal-balan karo pikiranmu, iso-iso kowe dipenjarakke karo pasal penistaan sepak bola lo. Bahas bal-balan sing ora mendalam ngono lo.” Celetuk kang Toha agar kopi dan rokok kami tak ikut ternistakan.
—
[1] Penggalan lagu Gloria In Excelsis Deo.
[2] Penggalan lagu Glory United.
—
HB. Arafat, Alumni Ponpes Arraudlatul Mardliyyah Janggalan Kudus
