(Bukan) Cara Berwudlu


Oleh HB. Arafat
-

Kalau membasuh wajah adalah mensucikan martabat, mengembalikan fitrinya kharisma. Agar saat engkau memandangku maka berlakulah "dari mata turun ke hati". Sebab engkau mencintaiku adalah barang wajib yang mestinya engkau miliki. Sebab menjaga martabat itu kewajiban bagi manusia, syukur-syukur nantinya engkau diangkat semesta menjadi imam, syukur-syukur imam besar. Boleh engkau tertawakan saya, sebab menertawai bukan bagian dari menjatuhkan martabat manusia dan martabat imam besar. Take Bir!. Jadi jangan sepaneng dengan hidupmu, apalagi harus meninggalkan bassamnya wajahmu.

Kalau membasuh kedua tangan itu memurnikan take and give yang engkau lakukan. Sebab tidak semua take-mu itu benar-benar murni penerimaan yang di dalamnya terkandung unsur-unsur cinta. Sebagaimana give-mu, jangan-jangan pemberian yang ada pamrih untuk kembali menerima. Sementara dalam lagunya gus Candra Malik, Cinta itu memberi tanpa diminta. Kalau cinta adalah gelombang di lautan, maka tangan adalah ombaknya. Keseimbangan memberi dan menerima harus engkau jaga, agar tidak hanya ombak yang terus menerus menerjang bumimu. Namun engkau juga sanggup menampung pecinta yang numpang mandi di lautmu.

Sementara membasuh sebagian kepala merupakan bagian dari mensucikan kenangan. Apabila engkau memiliki banyak kenangan, sementara kapasitas memori di dalam kepala hanya beberapa terabyte, solusi tepatnya yakni dengan pengkloningan/ pemindaian isi kepala. Sebab manusia yang tidak melaksanakannya, bisa-bisa akhir hidupnya akan tinggal di dr. Amino Pedurungan dan diberi ucapan selamat datang pasien baru. Proses mensucikan kenangan perlu engkau lakukan agar lekas move on dari kejahatan-kejahatan yang pernah engkau lakukan. Sementara kenangan yang berupa kebaikan basahlah dengan basuh air wudlu. Lambat laun memorimu akan bertambah byte-nya, sebab yang engkau simpan adalah kesucian. Kesucian itu cinta dan cinta tidak memiliki ruang dan waktu.

Kewajiban terakhir manusia yang berwudlu itu membasuh kaki. Membersihkan jejak hidupnya di dunia ini agar terus dikenang si cinta. Agar si cinta mengingatmu kemana engkau mengajaknya pergi. Semisal pergi ke Gunung Andong, ke Grojogan Kedung Kayang, ke Pantai Bandengan, ke Museum Lokananta, ke hatimu boleh juga lah. Itu misalnya, agar engkau mengingat segala kenangan kita yang suci-suci itu.

Dari keempat kewajiban itu, yang paling penting manusia itu niat. Tanpa diawali niat untuk mensucikan diri dari dosa-dosa sejarah, engkau tak akan sanggup bermartabat, menjaga keseimbangan, mencerna kebaikan dan mengekalkannya pada sejarah masa depan. Sementara berkumur merupakan langkah yang baik dilakukan untuk menyertai suatu niatan, agar mulut kita tidak lagi misuh-misuh lagi. Dan membasuh telinga, bagian dari menjaga keseimbangan mulut, agar engkau tidak melulu bicara, sesekali mendengarkan. Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karena separuh aku dirimu. Dengar laraku, suara hati ini memanggil namamu, karena separuh aku menyentuh laramu. Semua lukamu telah menjadi milikku, karena separuh aku dirimu.[1] Kalian luar biasa....
______

[1]
beberapa penggalan lirik lagu "Separuh Aku" karya band Noah.

-

HB. Arafat
, murid ibu Maftuhah

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia

Perubahan Budaya adalah Koentji