Berbuka dengan Mantan


Oleh HB. Arafat
-
Dihalalkan bagi engkau pada waktu malam ketika berpuasa menggauli para wanitamu. Mereka sebagai busana bagi kalian, dan kalian adalah busana bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kalian tidak akan sanggup menahan nafsu kalian, maka Allah mengampuni dan memaafkan kalian. Maka ini saatnya engkau menggauli mereka dan ikutilah apa yang telah dituliskan Allah kepada kalian. Makanlah dan minumlah sehingga jelas perbedaan bagimu benang putih dari benang hitam di suatu fajar. Lalu sempurnakanlah puasa itu sampai malam. Dan jangan gauli mereka sementara kalian beri’tikaf di suatu masjid. Itulah larangan Allah maka jangan engkau mendekatinya. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatNya kepada manusia agar mereka bertakwa.[1]
Adzan maghrib sudah di kumandangkan tandanya siang sudah diganti malam, kalender juga berganti, waktu saya untuk berbuka. Meski hanya dengan kopi yang saya pesan di warung kecil pojok depan rumah makan dan sebatang rokok yang saya miliki di kantong. Belum selesai menikmati buka puasa yang hanya kopi dan rokok—meski hanya namun itu nikmat—, mbah Taib sudah meminta untuk masuk bus kembali. Perjalanan harus dilanjutkan kembali. Tapi saya me-lobby, merayu, membujuk, meminta, memohon agar waktunya diundur sebentar, bukan waktunya yang diundur, namun berangkatnya yang diundur. Saya meminta sedikit waktu untuk menuntaskan merokok dengan dalih bahwa memubazirkan suatu hal itu akan menjadikan kita sebagai koleganya setan. Tentu dengan alasan semacam itu, mbah Taib—sebagai salah satu tokoh agama di kampung— akan sedikit memaklumi dan luluh hatinya.

Benar dugaan saya, beliau luluh hatinya mengijinkan saya menyelesaikan ngudud dan ngopi. Keputusannya bukan menjadikan saya lega dan nyaman, malah saya pekewuh dengan ibu-ibu jam’iyyah. Sebab mereka pastinya ada yang sabar menanti, ada sebagian yang semi-misuh dan ngompyang dengan ibu sebelahnya, dan banyak kemungkinan lainnya yang terjadi pada ibu-ibu lainnya. Kalau saya berpikir “terserah, emang gue pikirin. Wong tadi kalian juga kagak mikirin perasaan gue waktu gue masih berpuasa.”, maka saya tergolong masyarakat skeptism. Masyarakat yang tidak lagi peduli dengan sekitarnya disebabkan sekitarnya tidak sejalan dengannya dan tidak membawa perubahan yang baik secara revolusioner. Kalau saya berpikiran semacam itu, coba bayangkan kalau mereka juga mengalami hal serupa dengan saya, akan ada benturan-benturan yang serupa dengan benturan 65 dan pra 45. Namun dengan latar masalah yang berbeda.

Kalau saya sebagai anak turun korban 65, saya berusaha memaafkan kesalahan masa lalu siapapun yang menjadi pelaku pembunuh orang tua saya. Kalau pun saya sebagai korbannya, saya berusaha memaafkan juga, meski susah melupakan kejadiannya. Untungnya saya bukan anak turun korban dan korbannya, sehingga saya bisa obyektif tanpa subyektivitas untuk mengamati permasalahannya. Jika pun saya anak turun korban atau korbannya, tentu saya berusaha menjauh dari persoalan, agar saya bisa melihatnya secara tepat, meski agaknya susah dilakukan. Komunisme adalah jalan untuk memetakan persoalan banyak manusia agar terwujud gol yang adil sosial bagi seluruh rakyat jancukers. Ups, saya kok malah menyebut komunisme, padahal sejak tadi saya berusaha menahan untuk tidak menyebut komunis, komunisme, apalagi PKI. Sebab engkau tahu mengapa, saya takut jika dikira komunis dan dianggap antek dan turunannya yang bangkit dari kubur. Haduh, saya kok malah tambah telanjang menyebutnya. Sudahlah, mari saling memaafkan, mari lupakan kejahatan mantan-mantanmu untuk saling memafkan, syukur-syukur bisa balikan merajut (pacaran) keinidinesiaan kembali.

Lama-lama saya tidak enak sama ibu-ibu jam’iyyah yang sudah menunggu di dalam bus hanya demi mengenang mantan yang katanya bangkit kembali, apalagi televisi tetangga bilang hantu atau nyata, padahal hantu itu nyata. Perbandingannya pak kurni kok ngawur begitu ya. Alhamdulillah, rokok saya sudah pada tahap hisapan terakhir, saya hisap dalam-dalam sembari syukur yang samudera. Saya pun akhiri renungan mantan yang bangkit kembali untuk masuk ke dalam bus yang move on pada perjalanan. Bus pun berjalan ke arah timur, menuju Tuban.



[1] Al Baqarah ayat 187



HB. Arafat, santri Kiai Kustur Faiz, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator