Beberapa Kisah Kayen-Rembang


Oleh HB. Arafat
-

Ternyata sebelum saya sampai di parkir bus, masih ada beberapa ibu yang beribadah belanja—bahasa western religious itu shopping—, padahal penjual di area makam Mbah Sariden terbilang sedikit. Sehingga waktu harus molor menunggui ibu-ibu itu. Engkau tahu bagaimana cara untuk terhindar dari godaan shopping? Cara yang paling hemat bagi seseorang yang hendak menghindari bisikan setan shopping—makhluk apalagi ini, diciptanya kapan, sesudah idajil, malaikat, ya’jul ma’jul, dajjal, eyang semar atau sebelum manusia dicipta— yakni dengan engkau sibuk menulis dan mengkaryai segala peristiwa yang engkau alami. Jika engkau tidak kuat menuliskan kisahmu yang penuh darah dan air mata, sebab terlalu banyak penolakan dan putus, maka buatlah sekreatif mungkin hidupmu dalam berkarya. Berkarya selain menulis bisa berupa melukis, bermain musik, menyanyi, apalagi di gadjetmu kan penuh dengan aplikasi kreatif guys.

Perjalanan berlanjut pukul 14.14 seusainya saya sembahyang dan ibu-ibu salam dari shoppingnya. Kami akan menuju Tuban, kota dimana ayah Sunan Kalijaga pernah menjadi adipatinya. Dalam perjalanan mata saya tak bisa terpejam sebagaimana perjalanan tadi. Padahal energi dan daya yang saya miliki hanya berapa puluh persen untuk melakukan aktifitas yang berat-berat. Tapi tenanglah, saya tidak akan melakukan sweeping warung-warung, sebab tidak mungkin pak supir saya suruh berhenti demi memboikot warung sepanjang Pati-Tuban. Tenanglah bro, saya tidak akan berfatwa haram dan meminta saya dihormati sebagai satu-satunya penumpang bus yang berpuasa. Apalagi lek Ngatminah begitu lahap memakan gorengannya, mak dhe Sri melahap jeruk yang segar, coba engkau bayangkan betapa menderitanya saya, tapi kenikmatan puasa disaat mereka sedang nikmat melahap makanan, tubuh kita diuji dengan lapar. Sebab lapar itu baik, yang tidak baik itu kekenyangan dan kelaparan. Kata Gus Dur, jika kita merasa muslim terhormat, maka kita akan berpuasa dengan menghormati orang yang tidak berpuasa.

Lapar, lapar, tapi bukan engkau yang saya harapkan. Engkau hanya sebagai jalan menuju kualitas tubuh yang sehat, sebab engkau adalah jalan yang menyehatkan. Lapar, lapar, lapar, engkau bukan jalan menuju sakit yang menderitakan saya. Engkau adalah laku bagi manusia-manusia yang menempuh hidup sehat jiwa dan raga, dhohir dan bathin. Coba pikirkan—pikirkan dalam-dalam, konsentrasi satu kata, lalu rasakan apa yang kau pikirkan. Semakin dalam, semakin lama engkau akan terlelap…. Sempoa, jangan tatap saya— satu kata yang pas untuk menggambarkan keadaan yang saya alami kecuali lapar guys.

Daripada saya terlelap pada rasa lapar yang berbisik-bisik untuk membatalkan puasa, lantaran semakin lama godaan semakin bernafsu menyerang pertahanan rumah tangga diri saya. Jebret, jebret, jebret, ditarik lagi, ditarik lagi, gagal maning son-son. Saya berusaha mengalihkan serangan itu ke pinggir pikiran saya, tepatnya menikmati pemandangan Juwana, Pati hingga Sluke, Rembang. Rasa itu dialihkan oleh pemandangan tambak-tambak di daerah Juwana, digeser oleh ciamiknya miniatur china di Lasem, dan ketika sampai kota Rembang ada satu orang yang membuat saya merasa rindu. Beliau, Kiai Musthofa Bisri—biasa kita kenal beliau dengan nama Gus Mus, yang tiba-tiba shoot mengenai ingatan, tepat pada gawang rindu. Gol-gol-gol-gologologologol-gol-gol. Beliau melesatkan tendangan LDR dari tengah lapangan, kok Gus Mus menendang bola? Beliau aslinya kan memang pemain sepak bola.



HB. Arafat, santri Kiai Hanafi, Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator