Beberapa Catatan Rembang-Sluke


Oleh HB. Arafat
-

Di Rembang, selain beliau Gus Mus, saya juga teringat ayahnya Kiai Bisri Musthofa. Ayahnya adalah seorang penulis kitab (muallif). Beberapa karyanya; Tafsir Al Ibriz, Sulamul Afham, Tafsir Surat Yaasiin, al Azwad al Musthofawiyah, Washaya al Abaa’ lil Abna, Syi’ir Ngudi Susilo dan masih ada puluhan kitab karangan beliau. Dari sini tidak mengherankan jika buah tak jauh jatuh dari pohonnya. Gus Mus pun sama, memiliki banyak karya yang sudah menjadi kitab(bahasa indonesia disebut buku). Karya beliau diantaranya; Membuka Pintu Langit, Lukisan Kaligrafi, Fikih Keseharian Gus Mus, Mencari Bening Mata Air, Ohoi, Negeri Daging, Gelap Berlapis-lapis, Koridor, Wekwekwek, Cerita-cerita Pengantin, Kompenasasi, serta masih banyak yang lainnya. Ada yang unik dari beliau Gus Mus. Yakni nama ayahnya Kiai Bisri Musthofa, nama beliau Musthofa Bisri dan nama putranya Bisri Musthofa. Lalu, nama jalan kediaman beliau itu Jl. KH. Bisri Musthofa.

Kota Rembang memiliki kenangan tersendiri bagi saya, selain ingatan mengenai dua Kiai kharismatik tersebut. Saya pernah singgah ngopi dengan Kang Dul saat perjalanan ke Surabaya. Lo, ngopi kok merupakan kenangan berharga. Pasti engkau akan mempertanyakannya. Sebab ngopi merupakan ibadah bagi ahli hisab— intlektual matematika, eh bukan itu tapi para pecinta rokok— untuk menghitung setiap kenangan yang telah tinggal di tiap ruang dan tanggal pada setiap waktu. Ngopi adalah momentum sunyi untuk merenungi segala yang pernah manusia pijak dan merancang segala yang masih berada diantara langit dan bumi. Sementara kang Dul memberikan banyak kenangan pada ngopi di alun-alun Rembang lima tahun lalu.

Maghrib tak kunjung datang, sebagaimana petang yang tak lekas menjadi senja yang padam. Perjalanan terus berlanjut, sebagaimana para pejuang sunnah—khususnya pernikahan— selalu move on menuju masa depan, meski kenangan selalu diletakkan di bagasi—baik bagasi bawah maupun atas. Saya melihat petani garam masih mengeruk asa dari air laut yang ia sulap menjadi butiran permata bagi kelangsungan hidup mereka. Saya pun memandang pegunungan Kendeng yang berada di selatan jalan raya, seperti tumpukan garam yang ditumbuhi tanaman. Saya mengingat pejuang Kendeng yang pernah berjalan kaki Rembang-Semarang, ngecor kakinya demi keadilan tetap terjaga, demi ibu bumi tetap menjaga tanah air Nusantara.

Ingatan tetap ingatan, kenangan tetap kenangan, bus terus berjalan menuju Tuban. Perjalanan kali ini menyusuri pinggir segara, ombaknya tenang, sehingga banyak perahu yang bersandar di bibir pantai. Bukan sebab para nelayan malas mengais rejeki, melainkan momentumnya kurang pas kalau mereka ke laut. Maghrib sebentar lagi berkumandang, sebab binatang-binatang malam mulai beterbangan. Senja yang meganya bukan megawati, jingganya bukan jinggel-bel, mulai tampak di spion bus. Matahari sebentar lagi tertidur bagi mereka yang menyatakan bumi itu flate, ceper, rata, dan datar. Bus menyalakan reting kanan, tanda hendak singgah ke suatu tempat. Di depan tampak rumah makan. Bus pun masuk ke rumah makan.

Rombongan ziarah turun satu per satu. Mereka tidak masuk ke rumah makan, namun ke musholla. Bukan untuk sembahyang, namun pergi ke kamar mandi sebelah musholla. Mereka mengantri dengan baik, sebagaimana barisan anak-anak TK yang silih berganti ingin mencium tangan ibu gurunya. Mereka bergantian keluar masuk kamar mandi, bergantian sabun, bergantian handuk. Sementara saya di dalam bus sendiri, kang Toha sedang ngopi dan ngudu di bagasi bus. Saya menunggu maghrib Sluke yang tak kunjung berkumandang.



HB. Arafat, santri Kiai Ali Fikri, Jagalan 62 Kudus

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator