Air Mata Mimpi
Oleh HB. Arafat
-
Sebab masih bersemayam rasa sesal ketika perjalanan dadakan di Api Abadi Mrapen maka ketika bus berhenti di area Makam Ki Ageng Selo saya tidak beranjak bangun dari tempat tidur kursi busnya. Padahal kang Toha sudah membangunkan saya, katanya sudah dibangunkan hanya saja pindah tempat ke jok belakang yang panjangnya masih menyisakan sedikit dari panjang tubuh saya. Saya baru menyadari kalau tidak ikut berziarah ke makam Ki Ageng Selo saat ibu-ibu yang duduk di jok saya membangunkan saya. Lagi-lagi saya menyesal, sesal di atas sesal. Padahal Ki Ageng Selo merupakan sesepuh sahabat saya kang Dul. Betapa menyesalnya saya mengapa bisa tidak bangun. Coba engkau bayangkan bagaimana menyesalnya saya—yang bisa menggambarkan penyesalan saya akan mendapatkan lukisan gratis dari Gus Azka, itupun kalau beliau berkenan. Penyesalan bagi mbak Dhenok Kristianti adalah tangis tanpa muara.
Tidak, tidak sebab itu saya tidak bisa bangun tidur sebenarnya. Engkau pastinya tahu bagaimana rasanya orang mimpi basah. Tapi bukan mimpi basah yang menghinggapi saya, melainkan ada seorang wanita yang datang menemui saya di dalam bus.
“Mas, kalau emak meninggal bagaimana?” Tanpa permisi, tanpa salam, wanita itu nyelonong membangunkan saya dengan pertanyaan semacam itu.
“Hussh, meninggal itu pasti nduk, tapi kapannya itu belum pasti….”
“Aku sedih kok.” Sembari menangis, wanita itu memotong pembicaraan saya kemudian menaruh kepala pada dada saya.
“Cup, cup nduk. InsyaAllah lima sampai sepuluh tahun ke depan emak enggak meninggal. Emak insyaAllah sembuh nduk. Sudah saya titipkan kesembuhan Emak agar disampaikan Sunan Kalijaga kepada Allah.”
“Tapi kondisinya sakit gitu. Kasihan.” Jawabnya terbata-bata dengan isak tangis yang terjeda-jeda.
“Sakit itu jeda nduk. Agar Emak sedikit istirah lebih panjang. Selama ini kan Emak jarang istirahat nduk. Dibalik sakit pasti ada obat dan hikmah bagi mereka yang sehat.” Sembari tangan saya mengelus kepala dan mengusap air matanya yang kini sudah mulai rintik.
“Tapi kan istirahatnya kesakitan mas.”
“Udah nduk, tidak usah berpikir negatif mengenai Emak ya.” Air matanya kini tinggal beberapa butir di mata dan pipinya. “Perbanyak harapan agar ruang bagi asa tetap terjaga. Jangan sampai putus asa. Jangan bersedih nduk, Allah bersamamu.”
—
HB. Arafat, santri Kiai Saifuddin Luthfi, Kudus
