Seruput Teh dan Letupan Asap Rokok
Oleh HB. Arafat
-
Seruput, duaseruput, kang Dul meminum teh angetnya, sementara saya masih dibingungkan oleh jawabannya. "Dari rahim ibu" memiliki banyak kemungkinan tafsir. Pertama, rahim yang ia maksudkan rahim berupa vagina atau rahim dari kosakata bahasa arab, berarti kasih sayang, yang kalau dijawakan menjadi welas asih ing dalem akhirat bloko. Kedua, ibu yang ia maksudkan itu ibu kandungnya, ibu dari anak-anaknya, atau ibu kota yang konon lebih jahat ketimbang ibu tiri.
Sayangnya, saya terkadang tidak memiliki kemampuan untuk bertanya pada kang Dul. Takut-takut nanti saya dibuat kebingungan lagi dengan jawabannya, sehingga kemungkinan-kemungkinan itu hanya menguap dalam kepala saya. Meski begitu saya tetap bersyukur, mendapatkan beberapa kunci dari kang Dul. Tinggal menunggu dipertemukan atau mencari untuk menemukan pintunya.
Kang Dul kemudian mengambil rokok, menyalakan api, sebagaimana kretek yang tak sempat diucapkan rokok kepada api yang menjadikannya tekhek. Bukan "dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu."[1]
"Kang, sampeyan sudah tahu belum kalau pak kaji Jamal tadi siang meninggal." Tutur kang Dul pasca letupan asap rokok hisapan pertama. Saya kaget, lantaran di hari raya kemarin saat silaturrahim ke kediamannya, beliau sehat-sehat saja.
"Lo, meninggal kenapa, kang?"
"Orang meninggal itu sebab ketentuan dan jangka waktunya hidup sudah habis."
Kalau jawabannya semacam itu, setiap muslim, bahkan setiap manusia pasti menyadarinya. Bahwa hidup di dunia tidak abadi, sebagaimana hidup di alam rahim. Masih ada alam-alam lain setelah alam dunia: baru jarak dekat, masih ada jarak panjang. Tarik napas panjang, agar tak kehabisan napas dalam rakaat-rakaat panjang berikutnya.
—
[1]
Penggalan puisi "Aku Ingin" karya Sapardi Djoko Damono
-
HB. Arafat, alumnus TPQ Al Cholieliyyah Jetak Wedung Demak
