Sakitnya Kalah Kuat
Oleh HB. Arafat
-
"Ohya kang, mertua sampeyan itu sakitnya apa ya?" Sebelum kang Dul beranjak pergi, saya cegat pertanyaan yang umumnya dipertanyakan seseorang yang mendapat kabar kerabatnya sakit.
"Katanya perutnya membesar seperti orang hamil, padahal sudah menopos."
"Sudah berapa lama, kang?
"Semingguan, kang."
"Penyakit apa itu, kang, namanya?"
"Enggak tahu, kang, katanya belum diperiksain ke klinik."
"Lah kok ngawur gitu, kang!" Saya agak sensitif mendengar jawaban kang Dul. Kok sebegitu ngawurnya keluarganya kang Dul menghadapi urusan yang urusannya dengan nyawa manusia. Tapi saya tidak memiliki hak maupun kewajiban ikut campur urusannya, kecuali kang Dul dan keluarganya meminta tolong untuk ikut campur.
Ngawurnya itu hanya dalam perspektif saya saja. Sehingga bukan ngawur yang benar-benar ngawur, tapi ada yang lebih ngawur dari keluarga kang Dul. Ngawurnya Pe-Te pembuat jalan negeri inidinesia, meski hanya mengurangi takaran semen, pasir, aspal sedikit tapi merata, itu membuat angka kecelakaan meningkat tiap tahunnya, meski tetap kalah dengan negara-negara (yang katanya) maju lainnya. Ngawurnya dinas kesehatan pemerintah kartun juga, dalam mengurus kesehatan, mestinya kesehatan itu yang pertama, baru prosedural administrasi nomor dua. Itulah sebabnya banyak anak-anak bangsa T yang bercita-cita menjadi seorang insinyur dan dokter.
"Malah kemarin katanya, beliau piknik ke Jogja dalam keadaan sakit." Jawab kang Dul membuat tratap-tratap saya semakin menjadi saja.
"Lah kok malah gitu, kang? Kok tidak khawatir pada kesehatannya?"
"Emakku, mertuaku maksudku, kang. Beliau itu lebih kuat daripada yang dikira orang-orang itu penderitaan. Jiwanya sanggup menampung segala derita dan sakit yang dikaruniakan padanya. Itulah mengapa aku memilih anaknya sebagai emak bagi anak-anakku dulu, sebab karakteristik istriku itu persis seperti mertuaku. Hai manusia, sesungguhnya telah datang pada kalian pitutur yang lembut dari Tuhan kalian dan penyembuh bagi penyakit yang berada dalam dada dan petunjuk dan karunia bagi mukminin[1]."
NB:
[1]
يا أيها الناس قد جاءتكم موعظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهدى ورحمة للمؤمنين
(يونس، ٥٧)
-
HB. Arafat, Murid Nurul Fuadah SH.I
