Rizki di Pagi yang Indah


Oleh HB. Arafat
-

Kopi, rokok dan bakwan lek Kholidah sudah membuat saya (berusaha) bersyukur, meski mata sebenarnya ngantuk-ngantuk gimana gitu, tapi enggan terpejam. Anak-anak mulai berangkat ke madrasah sebelah barat rumah, setingkat sekolah dasar, berjalan kaki laiknya sekumpulan semut yang bahu-membahu mencari makanan. Satu dua anak yang diantar pakai motor oleh orang tuanya, bukan sebab orang tuanya khawatir diculik, melainkan sebab rumahnya di dusun sebelah.

Kali ini saya sangat bersyukur, tanpa meminta, mamak membawakan sebungkus janganan. Dari pada kepala saya disesakpenati kebenaran informasi yang belum valid tadi, dikatakan kebenaran saja belum sampai, ngapain harus dibawa ke alam pikir. Tapi hal itu membuat saya teringat yang pernah Mbah Nun tuturkan dalam maiyahan. Bahwa kebenaran itu ada benere awake dewe, benere wong akeh, dan bener sak benere bener/ kebenaran sejati.

Kalau masih pada tahapan benere awake dewe, anda boleh menerima, boleh juga tidak menerima. Pada benere wong akeh, anda harus menerima selama anda di dalam lingkaran wong akeh tersebut, jika anda sendiri anda bisa saja memakai benere dewe. Sementara bener sak benere bener, kalau anda orang yang memiliki kesejatian hidup, anda harus memakainya dalam benere dewe dan benere wong akeh. Sebab dua kebenaran pertama itu masih subjektif tunggal dan subjektif jamak.

 رضيت با لله ربا، وبالإسلام دينا، وبمحمد نبيا ورسولا، رب زدني علما نافعا، ورزقني فهما واسعا."
"....رب اشرح لي صدري ويسرلي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي

Lantunan doa itu mulai terdengar, menandakan anak-anak sudah mulai belajar dengan para guru-gurunya. Ada yang mulai mengalihkan pikiran saya, yakni "wa rizki fahma wasiaa", yang artinya kurang lebih "dan rizkilah saya dengan kesadaran yang luas" . Apa jangan-jangan perilaku materialisme yang saat ini hampir digandrungi masyarakat muslin kita lantaran sejak kecil sudah gagal paham rizki yang kesadarannya luas adalah uang yang sangat banyak. Kalau begitu berdosalah guru-guru kita yang tidak menitip pesan yang dalam mengenai rizki. Kalau yang saya pahami hanya Rizki Indah Ferina.

-

HB. Arafat, murid bu Zakiyah

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki