Penak Jamanku To?
Oleh HB. Arafat
-
Saya terpaksa tidak mau mengajak berbincang kang Dul lebih lama lagi, lantaran mestinya kang Dul dengan sesegera mungkin pergi ke rumah mertuanya.
Mertuanya lebih sangat membutuhkan daripada ia ngobrol dengan saya. Kang Dul pamit pergi dari warung, sementara saya menghubungi mamak. Apakah belanjanya sudah selesai atau masih membutuhkan waktu lama lagi.
Syukurlah masih lama waktu yang perlu dihabiskan mamak untuk belanja, sehingga memberikan peluang kepada saya untuk melaksanakan sujud syukur. Syukur karena ada chat WhatsApp darinya, yang mesti saya rahasiakan dari engkau-engkau semua. Selain itu saya mensyukuri telah diberikan banyak nilai dari pria yang kusangkakan sebagai Hidlir 'alaihis salam.
Jam handpone menunjuk pada angka 11.19, saya beranjak menuju masjid. Sesampainya di masjid, langsung menuju kulah. Kulah itu bak air di masjid yang biasa dipakai untuk berwudlu kaum primus, pria-pria mushola. Sebab biasanya para wanita tidak wudlu di masjid dan kuantiti of jamaah dari kalangan wanita paling-paling separuh dari jumlah prianya. Sehingga primus menjadi popular daripada wamus, wanita-wanita mushola. Kembali pada kulah, yang menyegarkan, sebab airnya air murni tanpa kapuritnya PDAM negeri inidinesia. Kulah yang memberi kesegaran bagi mereka yang gersang oleh teriknya panas globalisme.
Kulah itu berasal dari kata Qul Allah, sebab masyarakat kita susah mengucapkan Q maka Qul Allah menjadi Kul Allah. Kedua, masyarakat kita susah mengucapkan kata dengan pengulangan huruf, maka Kul Allah menjadi Kul Alah. Dari Kul Alah itu menjadi Kulah. Begitulah prediksi ngawur dari saya, agar kulah tampak religius di mata engkau-engkau. Sebab engkau memandang religiustas itu hadir ketika bersinggungan dengan aroma yang berakar kamus kata agama. Maka mudah-mudahlah untuk ditipu dengan label-label yang berseliweran sebagai religiusitas.
Sudah saya kumur-kumur mulut, agar segala cacimaki, pisuhan, serta ucap yang begitu uap menjadi syukur yang tak henti mendengkur. Lalu wajah saya kubasuh, agar martabat Saya --bukan saya yang S-nya kecil-- selalu memancar sebagaimana cahaya di tengah gelap, udara di tengah polusi, air di tengah sahara.
Lalu tangan kanan dan kiri, agar keseimbangan mencari, mengambil dan bekerja seimbang dengan memberi, mengasihi dan beramal. Lalu sebagian kepala kubasuh untuk membuka kejernihan berpikir. Sebab kesalahan suatu peradaban tergantung bagaimana benar-salahnya pikiran tiap manusia.
Semakin banyak manusia berpikir benar merupakan suatu gejala akan peradaban itu benar. Mulut, wajah, tangan dan ubun-ubun adalah peran-peran dari kepemimpinan yang otoriter. Jangan sampai engkau terjebak dengan sudut pandang negatif tentang otoriter. Piye, penak jamanku to?
-
HB. Arafat, murid Bapak Mahfudh, Ngegot Mijen Demak
