Kuliah Ilmu Kemungkinan


Oleh HB. Arafat
-

"Iya, kang, saya tahu kalau Allah itu maha semau-maunya. Namun tidak bisa saya pungkiri, semau-maunya Allah itu masih pada tahap logis bagi umat manusia. Sebab hanya manusia itu makhluk yang sempurna. Baik dalam hal logika." Saya mencoba mendalami peristiwa yang saya temui tadi.

"Kok bisa sampeyan tidak percaya bahwa pria itu tadi nabi Hidlir, kang. Oke, bisa saya terima kalau kemungkinan jempol lembek tidak hanya Hidlir saja. Tapi kenapa Allah membuat saya syahadat akan pria tadi, sementara pak Kar dijadikannya ghaib pada pria tadi." Lanjut saya penuh semangat sebagaimana ingatan saya ketika bahtsul masa'il di pesantren Jagalan 62.

"Begini kang, mungkin, Allah menampakkannya padamu itu karena kamu harus belajar bagaimana berbagi tanpa pamrih. Ini mungkin lo, kang. Ambillah nilai dari peristiwanya saja kang. Anggaplah pengetahuanmu mengenai Hidlir itu ilusi pengetahuanmu yang menjebakmu untuk tidak menciptakan peluang dan kemungkinan. Sementara kemungkinan nilai selain berbagi tanpa pamrih, kamu bisa mengambil nilai lainnya juga. Semisal ketepatan memberikan kepada yang benar membutuhkan. Nilai yang ini saja sedikit orang yang mau memahaminya kang.

Seringnya manusia itu, kang, memberikan ketika hatinya sedang legowo memberikan atau ketika manusia itu punya maksud tertentu agar ia mendapat lebih dari yang ia berikan. Sementara pria tadi tidak memberikan uangnya kepada pak Kar, padahal ia memakan apa yang dijual pak Kar. Padahal hukumnya wajib bagi pelanggan membayar apa yang ia makan dan minum. Bisa saja, tapi mungkin, pak Kar terlalu banyak menumpuk rejeki orang lain pada dirinya. Sebab sebagian rejeki kita itu, kan, ada kandungan rejeki orang lain, makanya ada Zakat, Infaq, Shodaqoh dalam Islam. Namun pria tadi gugur kewajibannya karena pak Kar tidak merasa melayani pria tadi."

"Jangan-jangan pria tadi menghipnotis pak Kar dan men-sugesti agar tidak merasa melayaninya dan menganggap tidak ada pria tersebut kang." Lagi-lagi saya beranikan diri untuk menyela piwulang kang Dul.

"Menengo cocotmu. Kalau tidak karena kamu, aku sudah pergi ke rumah mertuaku yang sedang sakit." Kang Dul agak geram karena saya memotong piwulangnya. Saya manggut-manggut saja, mulai memasang telinga dan menutup mulut.

"Selain itu, ada nilai kesederhanaan yang patut kamu ambil. Masih ada lagi, hidup apa adanya tanpa kepura-puraan. Sudah itu saja yang bisa aku ambil hikmah dari peristiwa yang kamu alami. Ini bisa pas, bisa tidak pas, sebab kemungkinannya masih banyak. Aku pamit dulu, mau ke rumah mertua."

"Terima kasih pak dosen kang Dul, sudah mengajar saya banyak sks hari ini, khususnya kuliah Ilmu Kemungkinan." Seloroh saya sembari saya mesam-mesem sendiri. Bukan semar mesem, jaran goyang, jarang goyang.

-

HB. Arafat, murid K. Aly Zabidi As'adi.

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki