Kemerdekaan Sejati


Oleh HB. Arafat
-

Tiba-tiba ada teriakan dari arah jalan, saya mengenal suara itu, suara tukang parkir burjo sebelah. Teriakan itu disertai berbondong-bondong orang berlari menuju tempat yang ia maksud. Ada yang berlari, ada yang ngegas kencang alias ngebut, ada yang santai jalan kaki, ada juga yang pakai motor jalan pelan. Hampir semua orang yang masih tersadar berduyun-duyun menuju tempat yang dimaksud pak parkir burjo. Para pelanggan kedai kopi Garuda pun ikut pergi menuju sana, termasuk saya, hanya tersisa mas bakul saja.

Sesampainya di sana, saya berusaha menerobos kerumunan, menerobos wajah-wajah ketakutan, wajah-wajah yang di matanya tersimpan kecemasan. Di kerumunan itu saya menerima pesan dari wajah mereka, jika esok kekasihnya, adik-adiknya, orang tuanya yang mengalami. Perlahan saya menepis kerumunan, dalam hati berkata "Labbaika Allahumma labbaik". Dalam bibir berkata "Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun". Dalam lidah berkata "Alhamdulillah, bukan kekasih saya". Dalam-dalam saya, ada yang bergumam seraya berteriak ketakutan dan kecemasan.

Dari tengah kerumunan samar-samar terlihat baju hitamnya bertulis Real Madrid di belakang baju. Saya semakin merangsek ke depan, menepis kerumunan yang tak saling mengenal, barangkali yang mereka kenali adalah kecemasan. Rambutnya mulai tampak, rambut panjangnya yang ikal. Dalam diri berkecamuk antara kecemasan yang senasib dengan orang-orang dan syukur sebab bukan kekasih saya, lantaran rambut kekasih saya panjang lurus. Apabila rambutnya berkibar, sungguh berkobar nasionalis kekasihisme dalam jiwa saya.

Ia wanita yang belum diidentifikasi siapa, belum ada kejelasan apa-apa kecuali mayat yang terbungkus trash bag yang terjatuh dari motor matic yang dikendarai pria; membawa anak kecil di belakangnya. Pria itu jatuh ketika tanjakan plus tikungantanpa telur dan sayur sebelah kampus swasta timur kedai kopi Garuda. Bungkusan trash bag itu jatuh berputar-putar menuruni jalanan perlahan terbuka dan wanita itu keluar dari dalamnya. Hanya saja orang-orang di sekitarnya tidak tahu kalau itu mayat. Orang-orang tertuju pada pria yang jatuh tadi, seketika pria itu pergi setelah bisa bangun dari jatuhnya. Sebab di jalan itu tidak ada lampu, orang-orang baru menyadari bahwa yang terjatuh adalah mayat, bukan sampah, selepasnya pria tadi pergi.

Orang-orang merasa bersalah membantu kepergian pria yang disangka membunuh wanita ini. Saya sudah di depan wanita itu, melihat keadaannya dan mengenang seseorang yang sama persis mengenakan cincin di jari tengahnya. Inafish, kepolisian datang membawa mayat wanita itu dan kabar kabur dari orang-orang yang samar membeberkan kabar. Saya kembali ke kedai kopi, lupa belum membayar. Setelah membayar langsung pulang.

Orang-orang yang ketika menerima mushibah mengucapkan sesungguhnya dari Allah dan sesungguhnya kepadaNya kembali.[1] Tenanglah tanpa kecemasan, sebab kehidupan sejati tidak disini mbak. Madrid menang, engkau pun menang dalam hidup ini. Kematianmu adalah kekalahan pembunuh yang tidak mengerti arti tanggung jawab. Kemerdekaan sejati adalah hidup di alam akhirat.


———
[1]
(الذين إذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا إليه راجيعون (البقراه: ١٥٦

-

HB. Arafat, Wakil Ketua kelas 4 MI Darussalam 2 Jetak Wedung Demak

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Merindukan Pemimpin yang Orator

(Mat)Realisme Rizki