Kemerdekaan Bukan Merdeka


Oleh HB. Arafat
-

Kemerdekaan itu merdeka yang tidak merdeka oleh awalan "ke" dan akhiran "an". Sehingga sebenarnya Kemerdekaan tidak sanggup merdeka oleh awalan dan akhiran. Sementara dalam bahasa inggris, merdeka memiliki kosakata "freedom", hanya saja arti lebih pasnya itu kebebasan. Kalau kita penggal makna perkata, "free" memiliki makna bebas, sementara dalam bahasa inggris tidak ditemukan kata "dom", melainkan bahasa swedia yang artinya keputusan. Kalau kita gabungkan akan menjadi "keputusan yang bebas". Tapi saya selesaikan disini saja, definisi-definisi tersebut, sebab tidak terlalu penting bagi engkau sekalian. Apalagi bagi seorang Sutardji Calzoum Bachri, yang hendak membebaskan kata dari pengertian dan makna. Tapi mari kita tadabburi saja kata merdeka ke dalam hidup kita.

Kalau kemerdekaan tidak bisa merdeka sebab ada awalan dan akhiran itu artinya kemerdekaan bukanlah sesuatu yang sekarang terjadi saja. Kalau pun sekarang dan masa lalu, itu pun hanya menjadi kemerdeka, seperti kondektur transportasi saja, ke merdeka, ke merdeka, medan merdeka. Kalau pun sekarang dan masa depan saja, itu hanya menjadi merdekaan saja, artinya merdeka yang tidak beneran alias merdeka mainan. Maka kemerdekaan yang mungkin saja pas bagi saya itu merdeka saat ini yang terus menerus belajar dari "ke" masa lalu agar masa depan "an"nya tidak sekedar "an" mainan.

Sementara kemerdekaan dari sudut pandang kata "freedom" berarti kebebasan. Mestinya kebebasan itu apapun yang dari dirinya oleh dirinya dan untuk dirinya itu bebas, tidak ada pungutan atau tagihan apapun. Sementara sejak lahir manusia negeri Inidinesia, dibebaskan membayar akta kelahiran. Sebelum itu, kelahiran-kelahirannya mesti ditagih oleh administrasi rumah sakit. Ketika kanak-kanak masuk PAUD, lalu TK, SD, SMP, SMA, hingga perguruan-perguruan tinggi, semuanya penuh dengan registrasi-registrasi yang tidak dibebaskan biayanya. Punya tanah, tidak dibebaskan pajaknya, serta pajak-pajak, tagihan-tagihan lain yang sangat tidak membebaskan dirinya sendiri. Tapi mau gimana lagi, freedom Inidinesia sudah mengatur semacam itu. "Free" bebas, "dom" keputusan", keputusan yang bebas, yang saya tadabburi selanjutnya.

Keputusan yang bebas mestinya ada kesadaran di dalamnya. Sebab tanpa adanya kesadaran, manusia akan menjadi penjajahan jenis baru yang tidak menjadi suatu kemerdekaan sekarang, masa lalu dan masa depan. Ia hanya akan menjadi pasal untuk menguatkan kekayaan-kekayaan di luar dirinya. Namun itu bagus, sebab dalam kemerdekaan yang diregulasi kesadaran, manusia yang sadar ia terjajah namun ikhlas dijajah adalah suatu kemuliaan. Kecuali, manusia yang tidak sadar ia dijajah, namun sebenarnya ia juga tidak ikhlas dijajah, itu kebodohan.

Maka alangkah baiknya kita menjadi Sutardji Calzoum Bachri yang baru. Manusia-manusia yang tetap menghormati Inidinesia yang merdeka 72 tahun lamanya. Namun kesadaran Sutardji Calzoum Bachri untuk memisahkan kata dari maknanya kita terapkan dalam kesadaran-kesadaran kita mengenai kemerdekaan Inidinesia ke 72. Sebab sejatinya kita masih harus terus menerus berjuang memerdekakan diri. Dan saya masih berjuang merdeka dari mata yang enggan dipejamkan.

-

HB. Arafat, Ketua Kelas 6 MI Darussalam 1 Jetak Wedung Demak

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Kebhinnekaan Angkringan, Pemersatu Umat Manusia

Perubahan Budaya adalah Koentji