Ibu Jari tak Bertulang
Oleh HB. Arafat
-
Saya masih setia menguntit, mengintai, menelisik, menelusuri, bahkan bisa dikatakan kepo terhadap pria tersebut. Siapa gerangan, yang sebegitu ringan memberikan, membagi-bagi uang yang kalau dalam hitungan saya teramat banyak. Saya yang hanya seorang penulis, aku mah apa atuh, yang upahnya tidak tentu, tergantung event dan pesanan. Apalagi kalau minggu ini saya tidak mendapatkan nama saya di satu koran pun, hancur hati saya. Tapi lebih hancur lagi kalau kau acuhkan aku, kau diamkan aku, kau tinggalkan aku[1], kau, iya, kau. Jadi untuk shodaqoh saya teramat berat, bahkan bisa dikatakan akan menggunakan pasal-pasal negeri inidinesia untuk menguatkan perlakuan saya. Wajar lah, saya kan penulis, punya seribu buku, seribu kamus untuk membenar-benarkan wacana dan ide saya.
Kini saya sudah di utara pasar terseret arus pria itu. Saya belum mendapatkan informasi apapun kecuali ia kumuh dan memiliki kantong ajaib. Sebenarnya dalam hati, ada harapan agar ia lekas menemuiku dan memberikan selembar atau beberapa lembar uang yang marhaenis, ada bung Karno dan bung Hatta, namun kehendaknya tidak semacam itu. Seringkali saya mengantar mamak ke pasar, namun baru pertama kali saya temui pria itu. Kini ia masuk warung pak Har yang terkenal dengan menu sop ayamnya, saya pun ikut masuk warung, agar mendapatkan informasi mengenainya lagi. Ia memesan sop ayam dan es teh, saya juga ikut memesan, namun saya hanya memesan kopi. Barang siapa ngopi/ kesepiannya akan lekas diampuni/ dan mereka yang telat ngopi/ bakal rentan diserang sepi.[2]
Sesampainya kopi dihadapanku, tiba-tiba handponeku berdering, nada khusus kalau dia sedang mengirim pesan whatsapp. "Mas.." begitu tulisnya, betapa syukurnya saya mendapatkan pesan darinya yang telah lama tak pernah komunukasi. Kubalas seadanya, menanyakan kabarnya, bapak ibunya, keluarganya. Belum sempat ia balas, kang Dul mengagetkan saya dengan cara mencablek dari belakang sembari berujar "kang." Kesepian saya benar-benar hilang. Sepi sebab memperhatikan pria yang sedari di depan Klenteng menghilangkan keramaian pasar, keramaian sekelilingku.
Kebetulan ada kang Dul, mungkin saya bisa mempraktikkan ilmu pria tadi dengan cara mentraktir kang Dul. Selain itu, sebagai wujud syukur yang tiada tara atas kehadirannya yang secara tiba-tiba via whats'app. Semau apapun kang Dul makan, minum akan saya bayar. Sesekali berusaha mengkayakan diri dengan memberi. Saya kembali memperhatikan pria itu, ia telah selesai makan dan minum. Saya terkejut sebab ia tidak membayar makanan dan minumannya, langsung meninggalkan warung itu. Saya bergegas menyusulnya.
"Assalamualaikum pak, saya Arafat." Saya menghaturkan tangan saya, kemudian disambutnya dengan tangannya. Untungnya saya sempat bersalaman dengannya, namun tangannya, bagian ibu jari begitu lembek, tak bertulang. Itu yang membuat saya tercengang dalam hati, merinding sekaligus sedikit berkucur keringat di leher belakang saya.
NB:
[1] bagian dari lirik lagu "Lumpuhkan Ingatanku" karya band Geisha.
[2] puisi "Surah2" karya gus Usman Arrumy.
-
HB. Arafat, murid pak Sholihun Ahmad
