Hidlir, Bukan?
Oleh HB. Arafat
-
"Waalaikumussalam," ia hanya menjawab begitu dan melepaskan tangannya, seketika pergi ke arah selatan. Sebenarnya saya mau menyusulnya, namun terhalang oleh kang Dul yang kutinggal di meja makannya. Saya kembali ke meja makan menghampiri kang Dul.
"Siapa itu, kang?" tanya kang Dul disaat keringat basah di leher belakang saya masih belum kering.
"Sepertinya beliau itu Hidlir, kang."
"Kok sampeyan tahu, ia Hidlir?"
"Lah pas saya ajak salaman, ibu jarinya lembek banget, kang. Ora ono balunge."
"Bisa saja itu bukan Hidlir. Aku mau tanya, kang, apa setiap yang ibu jarinya tak bertulang itu pasti Hidlir?"
Sebenarnya sudah sejak awal ketika kang Dul bertanya, saya enggan menjawab dengan jawaban yang linier. Namun bagaimana lagi, hidup saya teramat linier, sehingga jawaban-jawaban yang saya tuturkan padanya hanya sebatas pengetahuan yang saya ketahui. Selain itu, ditambah efek kegugupan sehabis bertemu pria yang saya kira nabi Hidlir a.s. Anehnya, saya kok masih percaya diri kalau saya bisa bersalaman dengan nabi yang dijadikan guru oleh nabi Musa, sesepuh bani Israel.
"Setahu saya, manusia yang ibu jarinya lembek itu cuma Nabi Hidlir, kang." saya berusaha menjawab seadanya, setahu saya, semoga kang Dul tidak menelisik ke wilayah yang aneh-aneh.
"Analisis dan asumsi sampeyan ngawur, kang. Informasi sejarah hanya menjelaskan salah satu ciri-ciri nabi Hidlir itu jempolnya tidak bertulang. Tapi tidak menutup kemungkinan ada manusia, selain beliau, yang juga memiliki kesempatan untuk jempolnya tidak bertulang."
"Lalu beliau itu siapa, kang?" Saya balik bertanya serta menceritakan kejadian yang saya temui tadi sejak di depan Klenteng mengenai pria tersebut.
"Tadi ia mengenalkan namanya tidak, padamu, kang?" Ini namanya pertanyaan di atas pertanyaan.
"Tidak, kang."
Kang Dul melanjutkan makannya, saya menyalakan rokok, sementara jawaban dan pertanyaan diam satu sama lain. Pertanyaan itu menggigilkan panasnya suasana pasar Welahan. Jawabannya tinggal di awang-awang imaji. Sop ayam yang perlahan-lahan masuk ke mulut kang Dul membuat saya ingin makan lagi. Namun saya berusaha membujuk diri untuk tidak menyenangkan kenyang yang masih tersisa di perut. Daripada saya ngiler melihat kang Dul makan, saya pergi ke bapak penjualnya membayarkan makanan yang dimakan kang Dul, saya, dan pria tadi. Sebab pria tadi setahu saya belum membayar, namun langsung pergi dari warung.
"Pak, pinten? Kopi, nasi sop, gorengane kaleh, es teh, kaleh ingkang dipun maem bapak ingkang klambi putih wau." Saya sembari menunjuk arah tempat duduknya.
"Bapak sing endi, mas?"
"Ingkang sederenge kulo wau lo pak, ingkang mesen sop, kadose." saya berusaha menjawab yang saya ketahui.
"Mboten wonten yo mas. Mboten wonten ingkang mesem maem sederenge sampeyan. Ingkang lenggah ten mriku niku pun bayar. Ning kaose mboten putih. Ning pun dangu kesahe."
Mendengar jawaban penjual itu saya semakin merinding dan bertanya-tanya dalam diri. Kok bisa, ya. Itu Hidlir, bukan?
-
HB. Arafat, murid bu Hj. Muniroh
