Gerhana Pengetahuan dan Khusufis Sex
Oleh HB. Arafat
-
Meski saya kaget mendengar kabar meninggalnya pak kaji Jamal, namun saya berusaha mengatur napas kekagetan saya. Khususnya kaget di depan kang Dul. Bisa-bisa saya ditertawai sejadi-jadinya.
Saya paham bahwa hidup manusia itu tidak hanya di alam ruh, alam rahim dan alam dunia saja, tapi masih kaget. Gitu saja kok kaget. Kemudian saya pindah gigi, pindah ke tarikan yang woles bro, agar kang Dul tak menaruh curiga pada saya yang masih belajar mengenai hidup.
"Kang, ngomong-ngomong malam ini akan terjadi gerhana, lo." Celetuk saya untuk mengalihkan kang Dul.
"Gerhana malam ini menjadi penanda kegelapan yang akan terjadi di desa Jim. Pak kaji Jamal itu khalifah yang mampu mengayomi rakyat, dekat dengan rakyat, serta memiliki kharisma tersendiri. Jika alam sedang berhajat, itu tanda bahwa ada salah satu khalifatullah fil ardi atau waliyullah yang sedang dipanggil gusti Allah menghadap haribaanNya. Namun tidak ada gerhana yang bertahan lama."
"Bukankah gerhana itu siklus yang pasti akan terjadi, kang? Sistem tata semesta, rotasi bumi yang berpijak pada dirinya, revolusi bumi yang mengelilingi matahari hidup. Begitu juga bulan yang berotasi pada dirinya, serta mengelilingi bumi yang berputar pada matahari hidup. Jadi bukan sebab karena pak kaji Jamal berpulang, kang."
Sesekali saya berusaha untuk mendebat kang Dul, itu pun disertai kekhawatiran kalau-kalau nanti kang Dul menjawab tidak sesuai yang saya bahas. Efeknya, pikiran saya akan mengalami dislinearisasi. Namun teori yang saya kemukakan kepada kang Dul adalah pengetahuan baru yang lahir kisaran abad 17 M.
"Apa kamu tahu mengapa Allah menyuruh kita untuk sholat gerhana serta memperbanyak istighfar tatkala gerhana terjadi?" kang Dul mulai menyentil.
"Tidak tahu, kang." jawab saya sekadarnya. Sebab sebenarnya saya banyak ketidaktahuannya dari banyaknya pengetahuan. Sementara pengetahuan itu hanyalah permukaan dari samudera ilmu.
"Saya banyak tidak tahunya kang. Kanjeng nabi pernah ngendikan, Aku kotanya ilmu dan Ali pintunya.[1] Lalu saya dimananya? Barangkali sejarak matahari ke bumi yang menutupi rembulan, kang." lanjut saya.
"Allah menyuruh hambanya untuk mendirikan sholat khusufil qomari dan istighfar yang banyak itu sebab dahulu ada suatu bangsa yang mendirikan Khusufis sex, maksudku pesta sex saat terjadi gerhana." tutur kang Dul sembari mematikan rokok batang pertamanya diisapan terakhir. Kemudian ia tertawa sendiri.
—
[1]
انا مدينة العلم وعلي بابها
-
HB. Arafat, Alumnus MI Darussalam Jetak Wedung Demak
