Allah Kok Diatur
Oleh HB. Arafat
-
Tanpa panjang kali lebar kali tinggi, sebentar ini kan rumus balok dalam mata pelajaran matematika sekolah dasar, kalau di masyarakat kami namanya rumus bikin peti mati dan liang lahat. Tetapi saya tidak akan mengubur cintamu, mengubur rasamu, mengubur segala yang telah kita kenang. Tanpa panjang kali lebar tanpa tinggi, langsung saya bayar semua yang saya dan kang Dul makan, lantaran pria tadi tidak dianggap keberadaannya oleh penjual sop ayam. Saya sudah tidak mau tau alasan mengapa pak Kar tidak mengetahui keberadaan pria tadi. Pikiran saya lost connect, sebagaimana ketika engkau melakukan perjalanan, signal internetmu hilang disaat memasuki desa terpencil.
Sungguh Dialah yang menciptakan langit dan bumi dengan benar, dan hari Dia men-sabda-kan "Kun Fayakun", sabdaNya sungguh benar. Sungguh padaNya kekuasaan di hari sangkakala ditiup, yang mengetahui yang tak tampak dan yang nampak. Sungguh Dialah yang maha bijaksana lagi maha mengetahui.[1]
Saya ceritakan yang diketahui maupun yang tidak diketahui oleh pak Kar tentang pria tadi pada kang Dul. Kang Dul hanya manggut-manggut belum merespons yang saya ceritakan. Ia meraba kantong jaketnya, semoga ia mengambil rokok lalu menyulutnya kemudian bertutur sesuatu. Benar sesuai perkiraan saya, ia menyulut sebatang rokok, menghisapnya dalam-dalam lalu melepasnya perlahan.
"Kang, belum tentu apa yang saya pahami itu sesuai yang kamu pahami." Kang Dul mulai bertutur dilanjut dengan menyedot rokok untuk yang kedua.
"Iya kang, saya ngerti itu."
"Bisa saja Allah yang maha memperlihatkan dan maha menghijab sesuatu, memperlihatkan pria tadi terhadap kita dan menutup pandangan lek Kar dari pria tadi."
"Tapi..." Saya memotong kang Dul, namun sampai satu kata ia potong kembali.
"Tidak usah tapi-tapian, kalau kamu yakin pria tadi Hidlir, yakinilah sendiri. Simpanlah di dapur hidupmu. Yang perlu kamu sajikan adalah yang kamu lihat dari pria tadi. Berbagi pada sesama, kebersamaan, kesederhanaan dan apa adanya."
"Tapi..."
"Tapi lagi...."
"Tapi bukan soal itu yang ingin saya dengar jawabannya, kang. Yang ingin saya dengarkan dari sampeyan itu, mengapa Allah memperlihatkan pria tadi pada saya dan tidak memperlihatkannya pada pak Kar."
"Mestinya kamu berpikir, mengapa Allah melakukan demikian."
"Demikian pula saya mempertanyakan, kok bisa begitu lo, kang."
"Allah itu maha semau-maunya. Jadi semau-maunya Dia melakukan apapun. Allah kok kamu atur!"
-
NB:
وهوالذي خلق السموت والأرض بالحق، ويوم يقول كن فيكون، قوله الحق، وله الملك يوم ينفخ فى الصور، علم الغيب والشهادة وهوالحكيم الخبير.
(الانعام، ٧٣)
-
HB. Arafat, murid Pak Suroso Ivan
