Maba
Bulan-bulan seperti Juli dan Agustus menjadi ramai bagi lulusan SMA Sederajat. Hiruk pikuk pendaftaran studi lanjut terlihat di setiap kampus. Lapak-lapak bermunculan di trotoar jalan jalan kampus.
-
Ujian telah dilakukan. Detik-detik menunggu pengumuman diterima atau gagal terasa begitu menegangkan. Paling tidak, terasa begitu lama ditunggu.
Altar dipersiapkan. Momen pengumuman tiba. Setiap jiwa menanggung beban masing-masing. Beban kecewa atau pun gembira. Kemudian memutuskan langkah baru, langkah selanjutnya.
-
"Syukurlah, keterima! Aku diterima, 'Mak. Aku masuk perguruan tinggi.~"
Ya. Diterima di perguruan tinggi adalah suatu kebanggaan tersendiri. Semacam kebanggaan yang membuncah di dada tetapi menolak dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan, yang cerdas dan pasti masuk pun saya percaya tak luput dari seremonial semacam itu.
Orang tua ikut senang, lalu mulai sibuk mempersiapkan keberangkatan sang anak menempuh studi. Dengan sedikit berat hati, orang tua selalu tegar, masih saja tersenyum. Melepas detik-detik tangan mungil itu, yang tak akan terlihat untuk waktu yang lama. Demi masa depan.
Kini, sang anak sudah di lingkungan kampus. Resmi menjadi Maba.
-
Perjuangan semacam itu seharusnya menempa kesadaran. Dengan doa orang tua yang bersahut-sahutan di langit, Maba seharusnya berpikir lebih dalam, tentang "Jalan". Salah satu manifestasinya bisa dilihat di Twibbon. Semacam foto dirinya dengan background kampus di mana ia diterima.
Dari Twibbon, saya berasumsi bahwa Maba adalah sekadar tentang euforia. Tentang ego yang menunjukkan kapasitas, bahwa ia mampu. Sedang dalam perasaan manusia-manusia yang merana karena tidak diterima, harapan yang kandas akan semakin kronis di dada.
Sebenarnya sah-sah saja membuat Twibbon semacam itu. Selain menunjukkan kreativitas, juga menunjukkan fakta empiris, bahwa ia memang diterima. Terlepas dari dampaknya, Twibbon tetap menjadi hak setiap bangsa. Pun memang menyenangkan untuk dilakukan. Diri kita secara nirsadar mendorong untuk turut membuat Twibbon. Kita melakukannya seperti tanpa kesadaran.
Tetapi seperti di awal, seharusnya Maba sudah mampu sadar kondisi, serta mampu menalar cukup dalam. Betapa tidak, ujian masuk yang soalnya bejibun saja bisa dikerjakan. Masa' menalar ndak bisa.
-
Jika sudah menalar, tentu akan berbeda paradigmanya. Urusan membuat Twibbon akan bisa dikendalikan dengan kesadarannya, tidak lagi nirsadar. Ia sudah mampu selangkah lebih maju dibanding lainnya, sebagai Maba.
Baginya, pondasi yang ia rancang lebih pada apa jalan yang akan dipilih. Ingin jalan aktivis, jalan akademisi murni, jalan relasi, dst dst. Bahkan kombinasi diantara semuanya juga menjadi sebuah jalan baginya, dengan struktur dan metode pelaksanaan yang jelas dan sistematis.
-
Ketika semua sudah dipikirkan secara mendalam dan ia tetap memutuskan membuat Twibbon, sepertinya memang tidak buruk juga untuk dilakukan (haha). Dipajang di dinding sosial media, juga ruang keluarga.
--- Sebuah kebanggaan yang matang. Dilakukan tidak dengan tanpa tujuan. Terkesan sepele dan sama sekali tidak serius, tetapi diam-diam punya daya tarik misterius. ---
