Kuliah dan Lapangan Kerja (part 2)


--- Sekolahlah sampai engkau tahu dirimu dibodohi, dan kamu tahu kalau sekolah gagal membodohimu. (Emha) ---

Mengawali bagian kedua ini, ungkapan tersebut sepertinya pas untuk sekadar sebagai permenungan.

Dalam kehidupan mahasiswa, tidak jarang orientasi yang ditumbuhkan (bahkan oleh sebagian dosen) adalah memperoleh pekerjaan dengan jabatan yang tinggi. Setidaknya, berpenghasilan tinggi.

Materi yang diajarkan sangat spesifik, sehingga keluarannya adalah seorang spesialis. Orang bekerja di bidang Editor, Jurnalistik, setidaknya tentu dari Sarjana Ilmu Komunikasi. Orang bekerja di proyek pembangunan harus dari teknik; sipil, arsitektur, dst.

Bahkan bagi sarjana kependidikan, guru adalah semacam jalan pasti. Sedang yang jadi acuan adalah menjadi PNS. Orang berlomba-lomba masuk PNS karena gajinya tinggi. Orang tidak lagi berlomba menjadi guru dengan idealisme yang sama ketika ia masih menekuni dan mendalami studi kependidikannya.

Terbawa Arus

Seperti di tulisan bagian pertama, produk lembaga formal sebagian besar adalah manusia-manusia pabrik, manusia robot yang tunduk pada atasan. Asal digaji dengan skala besar, semuanya berlomba mendapatkannya. Dan saya adalah yang termasuk di dalamnya.

Sebagai mahasiswa kependidikan, saya tentu saja dituntut menjadi seorang guru. Karena guru honorer gajinya rendah, menjadi PNS adalah tujuan utama. Doktrin semacam ini diulang-ulang hingga membentuk mindset. Tidak buruk memang, tetapi yang saya lihat selanjutnya adalah rendahnya perhatian terhadap apa itu guru dan bagaimana sebenarnya menjadi pribadi guru.

Ketika awal-awal mendalami studi, mencerdaskan kehidupan bangsa sangat bergelora di pedalaman jiwa saya. Bahkan saya tidak hanya ingin mencerdaskan, tetapi juga menanamkan moral. Begitu bergelora sampai akhirnya mulai padam perlahan menginjak 'semester tua'. Bagaimana berpenghasilan tinggi ternyata sudah semacam titisan dari lulusan pendidikan tinggi.

Kekalutan berpikir seperti ini sebenarnya ada solusi alternatifnya: menjadi wiraswasta. Pun juga ada di perguruan tinggi, dan diajarkan pada pembahasan Kewirausahaan.

-

"Ekspektasi tidak sesuai dengan realita..."

Benar, kondisi nyata selalu saja bertentangan dengan apa yang ada di angan-angan. Termasuk pada pembahasan kewirausahaan tersebut. Betapa tidak, sejak awal, acuan yang diajarkan adalah yang bernilai hasil tinggi. Pendapatan tinggi adalah level perguruan tinggi. Jika wiraswasta penghasilan rendah, itu sama saja dengan lulusan SMA, SMP, bahkan SD.

Di sini ada beberapa yang ingin saya soroti.

Pertama, saya selalu berasumsi pendidikan tinggi adalah tempat dimana kita mempelajari studi keilmuan, sedalam-dalamnya. Bahkan kependidikan pun, menjadi guru pun bisa didalami sampai filosofi yang mendasarinya.

Jika sudah seperti ini, fokus saya terhadap 'menjadi wiraswasta' pun tak ada. Atau setidaknya, ditunda dulu. Karena saya terlanjur masuk pada pedalaman kajian dan saya jatuh cinta di dalamnya. Itu artinya, kita masuk poin yang kedua. Membuka hati untuk menjalin hubungan seputar wiraswasta.

Saya selalu berasumsi bahwa wiraswasta adalah sebuah bakat. Seorang yang selalu berinisiatif mendapatkan penghasilan lebih kemudian melakukannya adalah mereka yang berbakat wiraswasta.

Bagi saya yang terlanjur jatuh cinta pada ilmu ini, merasa sangat berat. Bahkan, dinding sosial media saya tidak pernah terpikir untuk mengisinya dengan promosi barang dagangan. Bahkan dibayar untuk menulis tentang sesuatu saja, masih muncul perasaan kurang sreg. Untuk yang menulis dan dibayar itu hanya pengandaian, tentu saja. Tulisan ceker-ayam semacam ini tidak laku dijual. Tidak menarik dibaca kecuali terpaksa, apalagi untuk dagangan.

-

Ketiga, kewirausahaan yang diajarkan pada saya adalah yang berpenghasilan tinggi. Sehingga, usulan program usaha saya --yang sudah bisa membuka hati ini-- ditolak. Saya mengusulkan membuka warung kopi, yang sederhana tentu saja. Saya masih berpikir, tidak mungkin serta merta usaha bisa berpenghasilan tinggi. Harus dari nol, menyesuaikan modal yang ada.

Ternyata ini bertentangan dengan pemikiran dosen. Kalau bisa, ciptakan yang kerja minimal, hasil maksimal. Modal 'kan ada modal sosial?

Lalu keempat, apa ya. Sepertinya tiga sudah cukup. Saya tidak ingin mencari-cari kesalahan lebih banyak, yang sebenarnya hanya menjadi pelampiasan ketidakmampuan saya untuk menjalin hubungan lebih lanjut pada makhluk wiraswasta itu.

Saya tidak ingin memaksakan kehendak saya. Saya percaya, semua manusia memiliki jalannya masing-masing. Terlebih kalau bisa, jalan itu berada di wilayah jalanNya. Saya hanya berharap bisa belajar dari ketidakmampuan saya itu. Kembali menyitir ungkapan puitis Emha, "Orang boleh salah. Agar dengan demikian, ia berpeluang menemukan kebenaran dengan proses autentiknya sendiri.."

Postingan populer dari blog ini

Ya Kin(i)

Perubahan Budaya adalah Koentji

Merindukan Pemimpin yang Orator