Kuliah dan Lapangan Kerja (part 1)
Menuntut ilmu tentu adalah hak segenap bangsa. Ilmu memang menjadi semacam bekal untuk survive, bertahan hidup di dunia yang katanya penuh perjuangan ini. Soal lapangan pekerjaan? Nanti dulu. Itu persoalan belakangan. Ketika masih pada fase menuntut ilmu, lakukan saja dengan sungguh-sungguh. Karena perkara esok hari selalu saja tak pasti.
Bagi lulusan SMA Sederajat, silakan melanjutkan ke perguruan tinggi. Kalau pun kondisi ekonomi menjadi penghalang, masih ada kemauan yang patut diperjuangkan.
Di perguruan tinggi, banyak berbagai pemikiran yang akan turut membuka pandangan. Banyak kesadaran baru tentang arti diri, masyarakat, dst., yang perlu juga direnungkan. Bahkan di sini, tingkat keilmuan yang maksimal dituntut untuk dicari secara mandiri. Para dosen hanya menunjukkan pintu-pintu, keindahan permukaan laut yang nantinya diselami sendiri, secara mandiri.
-
Kalau perlu, usai lulus Strata Satu (S1) silakan melanjutkan ke strata berikutnya (S2, S3). Tingkat kemandirian dan kedewasaan tentu akan lebih terasah. Setiap persoalan akan mampu dipertimbangkan secara matang. Menapaki S2 mungkin dapat menjadi kulminasi ego dalam kerangka kesadaran; untuk lebih bermanfaat bagi orang banyak.
Tingkat keilmuan yang tinggi umumnya membuat pribadi lebih hati-hati. Semuanya dipertimbangkan. Semuanya sistematis dan metodologis. Jika sudah berhasil didapat, kembali ke pertanyaan awal: Bagaimana bekerjanya? Bukankah pengangguran masih cenderung didominasi para lulusan sarjana? Apapun bidang kesarjanaannya?
-
Susahnya Mencari Pekerjaan
Benar, mayoritas keluhan mahasiswa selain susahnya mengerjakan TA (Tugas Akhir) adalah selanjutnya kemana? Bekerja dimana?
Pertanyaan tersebut tentu tidak berlaku pada orang-orang yang sudah mencari relasi lapangan pekerjaan sejak di bangku perkuliahan. Bagi orang-orang ini, kelulusan menjadi hal yang ditunggu-tunggu. Menapaki jenjang karir yang sudah didapat dan pulang dengan bingkai kesuksesan.
Sangat indah memang. Tapi, sayangnya, orang-orang ini hanya segelintir. Hanya beberapa. Sedang lainnya, ya, seperti sebelumnya. Lulus mau kemana dan bekerja dimana menjadi semacam jargon andalan.
-
Walaupun segelintir orang tersebut dianggap berhasil, ada juga asumsi yang mendiskreditkan mereka. Banyak yang berkata, "Buat apa sekolah tinggi-tinggi jika ujung-ujungnya hanya bekerja di pabrik, bank, dst., yang notabene manusia-manusia robot. Penuh aturan, tak punya kebebasan.
Kiranya akan menjadi lebih ndadi kalau menyitir ungkapan Bob Sadino. Kira-kira begini, "Setinggi apapun jabatanmu, pangkatmu, engkau tetaplah buruh. Para pemilik warung dan kaki lima lah sejatinya seorang bos."
Kalau sudah begini, sikap seperti apa yang harus diambil? Ingat, gini-gini sarjana, lho. Pernah mahasiswa. Pernah bersenandung: buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota, bersatu padu rebut demokrasi...
